PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)
JUDUL:
PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) BERBANTUAN MEDIA VIDEO PEMBELAJARAN
UNTUK
PENINGKATAN
PEMAHAMAN KONSEP MATERI
“IBADAH
YANG SEJATI” PADA SISWA KELAS VI A
SDN 4
KASONGAN LAMA
OLEH:
YEPRIANTO,
S.Pd.K
NIP.
19870227 201402 1 001
PEMERINTAH
KABUPATEN KATINGAN
DINAS PENDIDIKAN
SDN 4 KASONGAN LAMA
JL.
JAMBU KERENG HUMBANG
KASONGAN
2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Masalah
Mencerdaskan
kehidupan bangsa merupakan salah satu cita-cita Bangsa Indonesia. Menurut UU
Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, serta bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Merujuk
kepada pendidikan Agama, Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007
tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, disebutkan bahwa: Pendidikan
agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan
hubungan inter dan antarumat beragama (Pasal 2 ayat 1). Selanjutnya disebutkan
bahwa Pendidikan Agama bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami,
menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya
dalam ilmu pengetahuan,teknologi dan seni (Pasal 2 ayat 2).
Secara
khusus untuk Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen, dijelaskan hakikat PAK seperti yang tercantum dalam
hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan
secara terencana dan berkelanjutan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta
didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan
Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari,
terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang
terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan
tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari
komunitas.
Muara
dari semua proses pembelajaran dalam penyelenggaraan pendidikan adalah
peningkatan kualitas hidup anak didik, yakni peningkatan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap (aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang baik
dan tepat di sekolah. Dengan demikian mereka diharapkan dapat berperan dalam membangun
tatanan sosial dan peradaban yang lebih baik. Jadi, arah penyelenggaraan
pendidikan tidak sekadar meningkatkan kualitas diri, melainkan untuk
kepentingan yang lebih luas, yaitu membangun kualitas kehidupan masyarakat,
bangsa, dan Negara yang lebih baik. Dengan demikian terdapat dimensi
peningkatan kualitas personal anak didik, dan di sisi lain terdapat dimensi peningkatan
kualitas kehidupan sosial.
Dalam
UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 juga dinyatakan bahwa pembelajaran merupakan
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Melalui pembelajaran itulah peserta didik diharapkan mencapai
dan menuntaskan fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional maupun tujuan PAK
itu sendiri. Dengan pembelajaran di sekolah, peserta didik diberikan dan
diajarkan materi-materi dan konsep yang nantinya akan membekali peserta didik
untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dengan
demikian, pendekatan pembelajaran PAK bersifat berpusat pada peserta didik,
yang memanusiakan manusia, demokratis, menghargai peserta didik sebagai subyek
dalam pembelajaran, menghargai keanekaragaman peserta didik, memberi tempat
bagi peranan Roh Kudus. Dalam proses seperti ini, kebutuhan peserta didik
merupakan kebutuhan utama yang harus terakomodasi dalam proses pembelajaran.
Namun dalam praktiknya Guru
sering kali menerapkan proses pembelajaran yang konvensional yang cenderung
menempatkan guru sebagai pusat pembelajaran (teacher centered) sehingga
dampaknya
siswa kurang mampu untuk memahami konsep yang dijelaskan oleh guru. Minat siswa
kurang dalam mengikuti pembelajaran sehingga siswa pasif dalam pembelajaran. Metode
yang digunakan guru saat mengajar adalah metode ceramah. Kemudian, proses
belajar mengajar siswa juga mengacu pada penggunaan lembar kerja siswa dalam
buku yang tidak disusun oleh guru kelas bersangkutan. Akibatnya pembelajaran
berlangsung monoton, siswa membaca materi dalam buku, guru memberikan ceramah
dari materi yang telah dibaca siswa, kemudian siswa diminta mengerjakan lembar kerja
siswa dalam buku tersebut.
Persoalan yang juga sering
dihadapi pada saat mengajar Pendidikan Agama Kristen selain antusiasme siswa
yang relatif rendah yakni cenderung
menggampangkan mata pelajaran agama dan enggan membawa Alkitab. Peserta didik yang
enggan untuk membawa Alkitab pada saat mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen beralasan
bahwa Alkitab terlalu tebal dan berat untuk dibawa. Keengganan membawa Alkitab
tentu juga berdampak dengan minat siswa dalam membaca Alkitab, siswa cenderung
malas membaca Alkitab karena dianggap terlalu tebal untuk dibaca. Padahal
konsep dan pemahaman utama terkait materi “Ibadah yang Sejati” ada dalam
Alkitab sebagai landasan teologis seperti terdapat dalam Roma 12:1-2 dan
Yakobus 1:26-27.
Konsep Ibadah yang sejati
yang harusnya dipahami peserta didik adalah bahwa Ibadah
adalah segala hal yang kita lakukan dengan penuh kesadaran kepada Tuhan,
sesama manusia dan seluruh ciptaan Tuhan. Itu berarti, ibadah adalah seluruh
aktivitas kehidupan kita. Ibadah juga tidak hanya terbatas pada aktivitas menyanyi,
berdoa dan membaca firman Tuhan. Ibadah adalah menyangkut seluruh hidup kita
untuk melakukan kehendak Tuhan setiap hari untuk itu indikator pencapaian
kompetensi yang diharapkan atau yang hendak dicapai adalah peserta didik mampu menjelaskan
arti ibadah yang sejati. menyebutkan dan mendaftarkan contoh-contoh ibadah dalam
kehidupan sehari-hari. Menuliskan dan menceritakan pengalaman pribadi dalam kaitan
dengan ibadah yang berkenan kepada Allah. Menyatakan tekad untuk melayani
sesama sebagai wujud melaksanakan ibadah yang sesungguhnya.
Dari
penjelasan yang telah dikemukakan di atas bahwa faktor-faktor tersebut
berdampak pada rendahnya pemahaman peserta didik terhadap konsep materi yang
dijelaskan guru. Untuk memecahkan permasalahan pembelajaran di atas, guru menetapkan
alternatif tindakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran terkait pemahaman
peserta didik terhadap konsep materi Ibadah yang Sejati yang dapat mendorong
keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan meningkatkan kreativitas guru. Maka
peneliti menggunakan model pembelajaran Think
Pair Share (TPS). Model pembelajaran TPS merupakan model pembelajaran yang
menekankan aktivitas siswa, dengan menerapkan model pembelajaran TPS guru
menekankan pemikiran individu siswa maupun berpikir secara kelompok. Sesuai
masalah yang terjadi pada siswa kelas VI A SDN 4 KASONGAN LAMA, model TPS ini
membuat siswa berpikir terlebih dahulu. Semua siswa berpikir dan menuangkan ide
yang dimiliki secara individu. Jadi semua siswa memiliki jawaban sendiri sesuai
dengan ide yang dimilikinya. Kemudian untuk menekankan keefektifan dalam
berdiskusi siswa berpasangan dengan teman satu bangku. Ketika hanya berdua yang
berkelompok maka diskusi akan lebih efektif. Pasangan akan mendiskusikan
pemikiran yang dituliskan pada tahap sebelumnya. Selain itu model TPS juga
melatih anak untuk mengemukakan hasil yang didiskusikan didepan pasangan
lainnya. Serta dengan memanfaatkan fasilitas yang ada disekolah maka media
video dipilih sebagai media pembelajaran yang dikembangkan. Alasan dari
pemilihan media video untuk membantu pembelajaran adalah karena media video
tepat digunakan untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan pembelajaran Ibadah
yang sejati, serta media video lebih menarik perhatian atau minat peserta didik
dalam mengikuti pembelajaran.
Dari
ulasan latar belakang tersebut, maka peneliti akan mengkaji melalui penelitian
tindakan kelas dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Think, Pair, Share (TPS) Berbantuan Media Video Pembelajaran Untuk
Peningkatan Pemahaman Konsep Materi Ibadah
Yang Sejati pada Siswa Kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama”.
1.2.
Rumusan
Masalah dan Pemecahan Masalah
1.2.1.
Rumusan
masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah dikaji oleh peneliti dapat diketahui bahwa terdapat
beberapa akar penyebab munculnya permasalahan terhadap pembelajaran Pendidikan
Agama Kristen. Adapun rumusan masalah umum peneliti adalah Bagaimanakah model
pembelajaran TPS berbantuan video dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas VI A
SDN 4 Kasongan Lama terhadap Konsep materi “Ibadah yang sejati” dalam
pembelajaran PAK? Rumusan masalah tersebut dirinci sebagai berikut:
1)
Apakah model pembelajaran TPS berbantuan
media video dapat meningkatkan keterampilan guru kelas VI A SDN SDN 4 Kasongan
Lama dalam pembelajaran PAK?
2)
Apakah model pembelajaran TPS berbantuan
media video dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama dalam
pembelajaran PAK?
3)
Apakah model Pembelajaran TPS berbantuan
media video dapat meningkatkan pemahaman Siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama
dalam pembelajaran PAK?
1.2.2.
Pemecahan
Masalah
Berdasarkan
rumusan masalah dalam pembelajaran PAK pada siswa kelas VI SDN 4 Kasongan Lama,
terdapat beberapa faktor penyebab munculnya permasalahan, antara lain adalah
keterampilan guru yang kurang maksimal serta rendahnya aktivitas siswa, yang
menyebabkan rendahnya pemahaman siswa sehingga mempengaruhi kualitas
pembelajaran PAK. Oleh karena itu, dilakukan perbaikan dalam proses
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran TPS serta berbantuan Media Video.
Adapun modifikasi langkah-langkah model pembelajaran TPS berbantuan Media Video
adalah sebagai berikut:
a.
Menyiapkan video yang sesuai dengan
materi untuk siswa.
b.
Memutarkan video yang berkaitan dengan
materi untuk merangsang ide siswa.
c.
Memberikan pertanyaan atau masalah yang
sesuai untuk merangsang ide siswa.(Think)
d.
Meminta siswa untuk menuliskan jawaban
dari permasalahan yang diajukan guru sesuai dengan ide yang dipikirkan. (Think)
e.
Memasangkan siswa untuk berdiskusi dari
hasil jawaban yang dituliskan. (Pair).
f.
Membimbing diskusi kelompok kecil.
g.
Meminta pasangan untuk menyampaikan
hasil diskusi di depan kelas. (Share)
h.
Meneruskan pemutaran video.
i.
Menjelaskan dan mengkonfirmasi tentang
materi yang berkaitan.
1.3.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
dilaksanakan penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan pemahaman
peserta didik dalam Pembelajaran PAK melalui model pembelajaran TPS berbantuan
media video pada siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama. Tujuan dari penelitian
yang telah dilaksanakan dirinci sebagai berikut:
1.
Meningkatkan keterampilan guru Pendidikan
Agama Kristen dalam pembelajaran PAK dengan model pembelajaran TPS berbantuan
media video.
2.
Meningkatkan aktivitas siswa kelas VI A SDN
4 Kasongan Lama dalam pembelajaran PAK dengan model pembelajaran TPS berbantuan
media video.
3.
Meningkatkan Pemahaman siswa kelas VI SDN
4 Kasongan Lama terhadap materi Ibadah yang Sejati dalam pembelajaran PAK dengan
model pembelajaran TPS berbantuan media video.
1.4.
Manfaat Penelitian
1.4.1.
Secara
Teoritis
Secara
teoritis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai landasan teori untuk
kegiatan-kegiatan penelitian selanjutnya dalam mengatasi kesulitan belajar
siswa pada materi “Ibadah yang Sejati” melalui model TPS berbantuan media
video. Selain itu penelitian ini juga dapat memberikan kontribusi pada
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam bidang
pembelajaran PAK pada materi “Ibadah yang Sejati”
1.4.2. Secara Praktis
a.
Manfaat
bagi Guru
1) Menambah
pengetahuan guru tentang model pembelajaran TPS dan media video.
2) Memberikan
referensi bagi para guru tentang model dan media pembelajaran yang dapat
digunakan dalam proses belajar mengajar.
3) Meningkatkan
keterampilan mengajar guru.
4) Mendorong
guru untuk menerapkan pembelajaran yang bervariasi dan inovatif.
5) Menanamkan
kreativitas guru dalam usaha pembenahan proses pembelajaran sehingga guru dapat
menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
b.
Manfaat
bagi Siswa
1) Memotivasi
siswa dalam mengikuti proses pembelajaran agar siswa lebih aktif.
2) Merangsang
keterlibatan siswa secara aktif serta rasa ingin tau dalam pembelajaran.
3) Melatih
siswa bekerjasama, melatih kemandirian siswa dalam kelompok, serta mengembangkan
kemampuan komunikasi siswa.
4) Video
dapat membantu melatih berpikir kritis serta membangkitkan semangat siswa dalam
pembelajaran PAK.
c.
Manfaat
bagi Sekolah
1) Meningkatkan
kualitas pendidikan di sekolah yang berdampak pada meningkatnya kepercayaan
dari pemerintah dan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah
tersebut.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1.
Kajian Teori
2.1.1.
Pengertian Pemahaman Konsep
2.1.1.1.
Pemahaman
Pengertian
pemahaman yang dikemukakan oleh para
ahli seperti yang dikemukakan oleh Winkel dan Mukhtar (Sudaryono, 2012: 44)
mengemukakan bahwa:
“Pemahaman yaitu
kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu
diketahui atau diingat; mencakup kemampuan untuk menangkap makna dari arti dari
bahan yang dipelajari, yang dinyatakan dengan menguraikan isi pokok dari suatu
bacaan, atau mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk yang
lain.”
Dalam hal ini, siswa
dituntut untuk memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang
sedang dikomunikasikan, dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan untuk
menghubungkan dengan hal-hal yang lain. Kemampuan ini dapat dijabarkan ke dalam
tiga bentuk, yaitu : menerjemahkan (translation x), menginterprestasi (interpretation), dan mengekstrapolasi (extrapolation).
Sementara Benjamin S. Bloom (Anas Sudijono, 2009: 50) mengatakan bahwa:
“Pemahaman (Comprehension) adalah kemampuan
seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui
dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengerti tentang sesuatu dan
dapat melihatnya dari berbagai segi. Seorang peserta didik dikatakan memahami
sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih
rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-kata sendiri.”
Menurut Taksonomi Bloom (Daryanto, 2008: 106) mengemukakan :
“Pemahaman (comprehension) kemampuan ini umumnya
mendapat penekanan dalam proses belajar mengajar. Siswa dituntut untuk memahami
atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan
dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkannya dengan hal-hal
lain. Bentuk soal yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan ini adalah
pilihan ganda dan uraian.”
Menurut Daryanto (2008:
106) kemampuan pemahaman dapat dijabarkan menjadi tiga, yaitu:
a)
Menerjemahkan (translation)
Pengertian menerjemahkan di sini bukan saja pengalihan (translation) arti dari bahasa yang satu
ke dalam bahasa yang lain. Dapat juga dari konsepsi abstrak menjadi suatu
model, yaitu model simbolik untuk mempermudah orang mempelajarinya.
b)
Menginterpretasi (interpretation)
Kemampuan ini lebih luas daripada menerjemahkan, ini adalah kemampuan untuk mengenal
dan memahami. Ide utama suatu komunikasi.
c)
Mengekstrapolasi (extrapolation)
Agak lain dari menerjemahkan dan menafsirkan, tetapi
lebih tinggi sifatnya. Ia menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi.
Berdasarkan pendapat di
atas, dapat disimpulkan pemahaman adalah
kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu
itu diketahui dan diingat, memahami atau mengerti apa yang diajarkan,
mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa
keharusan menghubungkannya dengan hal-hal lain. Dengan kata lain, memahami
adalah mengerti tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi.
Seorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan
penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan
menggunakan kata-kata sendiri. Kemampuan
pemahaman dapat dijabarkan menjadi tiga, yaitu: menerjemahkan (translation), menginterpretasi (interpretation),mengekstrapolasi (extrapolation).
2.1.1.2.
Konsep
Pengertian konsep yang dikemukakan oleh S. Hamid Husen
(Sapriya, 2009: 43) mengemukakan bahwa: “Konsep adalah pengabstraksian dari
sejumlah benda yang memiliki karakteristik yang sama”. Selanjutnya More
(Sapriya, 2009: 43) bahwa “Konsep itu adalah sesuatu yang tersimpan dalam benak atau pikiran manusia berupa
sebuah ide atau sebuah gagasan”. Konsep dapat dinyatakan dalam sejumlah bentuk
konkrit atau abstrak, luas atau sempit, satu kata frase. Beberapa konsep yang
bersifat konkrit misalnya : manusia, gunung, lautan, daratan, rumah, negara,
dan sebagainya.
Menurut Bloom (Vestari,
2009: 16) “Pemahaman konsep adalah kemampuan menangkap pengertian-pengertian
seperti mampu mengungkap suatu materi yang disajikan kedalam bentuk yang lebih
dipahami, mampu memberikan interpretasi dan mampu mengaplikasikannya”.
Berdasarkan pengertian
diatas dapat disimpulkan bahwa, pemahaman konsep adalah kemampuan menangkap
pengertian-pengertian seperti mampu memahami atau mengerti apa yang diajarkan,
mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan, memberikan penjelasan atau memberi
uraian yang lebih rinci dengan menggunakan kata-kata sendiri, mampu menyatakan
ulang suatu konsep, mampu mengklasifikasikan suatu objek dan mampu
mengungkapkan suatu materi yang disajikan kedalam bentuk yang lebih dipahami.
Adapun
indikator-indikator yang menunjukkan pemahaman konsep menurut Asep Jihad dan
Abdul Haris (2008: 149 dalam Arvianto, Ilham Haris, dkk, (2011: 172) meliputi
hal-hal berikut:
1.
Menyatakan ulang sebuah konsep
2.
Mengklasifikasikan obyek-obyek menurut sifat-sifat
tertentu (sesuai dengan konsepnya)
3.
Memberi contoh dan non contoh dari konsep
4.
Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk
representasi
5.
Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu
konsep
6.
Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi
tertentu
7.
Mengaplikasikan konsep dalam pemecahan masalah.
2.1.2.
Materi “Ibadah yang Sejati”
2.1.2.1.
Pengantar Materi
Beberapa hal tentang
materi pembelajaran yang berkualitas (Depdiknas, 2004: 9) adalah sebagai berikut:
a.
Kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran dan
kompetensi yang harus dikuasai siswa.
b.
Ada keseimbangan antara keluasan dan kedalaman
materi dengan waktu yang tersedia.
c.
Dapat mengakomodasikan partisipasi aktif mahasiswa
dalam belajar semaksimal mungkin.
d.
Dapat menarik manfaat yang optimal dari
perkembangan dan kemajuan bidang ilmu, teknologi, dan seni.
e.
Materi pembelajaran memenuhi kategori filosofis,
professional, psikopedagogis, dan
praktis.
Seorang guru harus
mengetahui materi pembelajaran dengan baik. Materi pembelajaran merupakan salah satu komponen penting
dalam proses belajar mengajar. Materi
pembelajaran harus disampaikan dengan menarik, agar siswa mengerti dan memahami materi dengan baik. Kualitas
materi pembelajaran yang disampaikan di atas digunakan sebagai
acuan guru untuk menentukan materi pembelajaran dalam penelitian ini.
Materi pelajaran pertama di kelas VI dalam penelitian ini hendak menekankan
tentang pentingnya ibadah yang
sejati. Bahan Alkitab yang menjadi dasar bagi guru untuk mengajarkan materi ini adalah Surat Roma 12:1-2 dan Surat Yakobus 1:26-27. Kedua bahan
Alkitab ini diangkat karena
memberikan pengertian yang jelas mengenai ibadah yang sejati disertai dengan contoh yang konkret. Topik ini penting diajarkan untuk meluruskan konsep
tentang ibadah yang sesungguhnya
kepada peserta didik. Pemahaman tentang ibadah sering dimengerti secara sempit, yaitu hanya sebatas pada upacara keagamaan seperti kebaktian
rutin yang diadakan tiap hari
Minggu di gereja, kebaktian keluarga yang diadakan di rumah, atau kebaktian yang diadakan di sekolah. Ibadah adalah segala hal yang kita lakukan dengan
penuh kesadaran kepada Tuhan,
sesama manusia dan seluruh ciptaan Tuhan. Itu berarti, ibadah adalah seluruh aktivitas kehidupan kita. Ibadah juga tidak hanya terbatas
pada aktivitas menyanyi, berdoa dan
membaca firman Tuhan. Ibadah adalah menyangkut seluruh hidup kita untuk melakukan kehendak Tuhan setiap hari.
2.1.2.2.
Penjelasan Bahan Alkitab
Roma 12:1-2
Surat Roma 12 ini berbicara tentang perilaku Kristen, khususnya dalam melayani Allah. Rasul
Paulus membicarakan masalah praktis tentang bagaimana seharusnya perilaku pengikut-pengikut
Kristus menjalani hidupnya. Kata kemurahan di ayat 1 dalam Bahasa Yunani
berbentuk jamak dan dapat menunjuk kepada belas kasihan atau “rahmat Allah yang
besar”. Dalam sejumlah bahasa “rahmat Allah yang besar” dapat diungkapkan
dengan kalimat seperti Allah telah
menunjukkan belas kasihan(-Nya) kepada kita atau Allah telah berbelas kasihan
kepada kita. Terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) mengubah kata
benda abstrak “kemurahan” menjadi suatu ungkapan yang mengandung kata kerja,
yaitu Allah sangat baik kepada kita.
Selanjutnya yang dimaksud dengan saudara bukan berarti “saudara”
berdasarkan pertalian kekeluargaan. Saudara di sini maksudnya adalah saudara
seiman, atau saudara yang sama-sama percaya pada Yesus Kristus. Aku
menasihatkan kamu dalam BIMK diterjemahkan dengan saya minta dengan sangat.
Kalimat ini dapat diterjemahkan juga dengan saya sangat mendesak kalian atau
saya mendorong kamu.
Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu: ada tiga hal yang Rasul Paulus
minta, dua berbentuk positif, yaitu “mempersembahkan tubuhmu” dan “berubahlah
oleh pembaharuan budimu” (ayat 2), dan satu berbentuk negative “Janganlah kamu
menjadi serupa dengan dunia ini” (ayat 2). Tubuhmu dalam BIMK diterjemahkan
dirimu, yang lebih cocok dengan Bahasa Indonesia. Rasul Paulus menggunakan kata
“tubuh” dengan arti diri seseorang.Kalimat “mempersembahkan tubuh sebagai
persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (ayat 1)
hendak menyatakan bahwa mempersembahkan kurban adalah bagian penting dalam
agama Yahudi dan dalam agamaagama lainnya pada zaman Paulus. Paulus mengatakan
bahwa orang beriman tidak perlu lagi mempersembahkan binatang mati atau
persembahan lainnya untuk menyenangkan Allah.
Mereka lebih baik mempersembahkan seluruh dirinya dalam pelayanan yang
hidup kepada Allah.Kata Yunani untuk persembahan diterjemahkan BIMK secara
hurufiah, kurban. Persembahan atau kurban ini dilukiskan dengan tiga cara,
yaitu hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. BIMK mengartikan istilah “yang
kudus” dengan yang khusus untuk Allah. Sedangkan “yang berkenan kepada Allah”
dapat juga diterjemahkan yang menyenangkan Allah.
Itu adalah ibadahmu yang sejati. Sejati di sini berarti “yang sesuai dan
pantas”. Sebab itu anak kalimat terakhir ini dapat diterjemahkan: Itulah
caranya kalian harus beribadah, atau begitulah cara yang patut untuk menyembah Allah.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini maksudnya: janganlah
ikuti kebiasaan-kebiasaan di dunia ini, atau janganlah terus lakukan apa yang
dilakukan orang-orang di dunia, atau dengan kiasan, janganlah jadikan dirimu serupa
berarti “mengikuti adat istiadat” atau lebih khusus lagi, “cara-cara bertindak
yang biasa dilakukan oleh orang-orang duniawi”. Kata dunia menyatakan bahwa
bagi Paulus, “dunia” berarti masa kini, di mana manusia lebih banyak mengandalkan
hal-hal yang bertentangan dengan Allah.
Tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu: secara hurufiah anak kalimat
ini berbunyi: “Tetapi [kalian] diubahlah oleh pembaharuan akal budimu”.
Kata-kata ini dapat diterjemahkan “biarlah Allah yang mengubah hati kamu atau
biarkanlah Allah memberi kalian pribadi yang baru.” Sehingga kamu dapat
membedakan manakah kehendak Allah: perkataan ini dapat diterjemahkan supaya
kamu tahu apa yang Allah mau atau inginkan. Apa yang baik, yang berkenan kepada
Allah dan yang sempurna: kata-kata ini menunjukkan apa yang Allah mau. Sempurna
dapat diterjemahkan sebagai: yang semestinya atau yang tidak ada kekurangannya
atau tanpa cacat sama sekali.
Yakobus 1:26-27
Surat Yakobus ditujukan kepada semua umat Allah yang tersebar di seluruh
dunia. Surat ini berisi sejumlah petunjuk dan nasihat praktis untuk orang
Kristen mengenai kelakuan dan perbuatan Kristen. Surat ini menekankan bahwa
dalam menjalankan agama Kristen, iman harus disertai perbuatan.
Yakobus 1:26 hendak menasihati bahwa kalau ada seseorang yang merasa
dirinya seorang yang patuh beragama, tetapi ia tidak menjaga lidahnya, maka ia
menipu dirinya sendiri. Menurut Yakobus, ibadahnya itu tidak ada gunanya.
Sedangkan Yakobus 1:27 hendak menasihati bahwa ibadah yang murni atau sejati
menurut pandangan Allah adalah menolong anak-anak yatim piatu dan janda-janda
yang menderita, juga menjaga diri sendiri supaya tidak dirusakkan oleh dunia.
Jadi bagi Yakobus, ibadah yang sejati adalah menjaga kesalehan hidup.
2.1.2.3.
Konsep Materi “Ibadah yang Sejati”
Ibadah yang sejati bukanlah sekadar kita
beribadah tiap minggu dengan rajin. Tidak juga terbatas pada menyanyi, berdoa,
dan membaca firman Tuhan saja. Memang hal itu tidak salah, tetapi yang terutama
adalah bagaimana kita dapat menunjukkan bahwa Yesus hidup dalam kehidupan kita melalui
tingkah laku dan gaya hidup kita. Yang terutama adalah melakukan
perintah-perintah Tuhan. Itulah yang dimaksud oleh Rasul Paulus ketika
menjelaskan pengertian ibadah dalam Roma 12:1-2. Bagi Rasul Paulus,
mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang
berkenan kepada Allah adalah ibadah yang sejati.
Mempersembahkan tubuh tidaklah diartikan
secara hurufiah dengan mengurbankan tubuh. Mempersembahkan tubuh berarti
memberikan atau mengabdikan semua pikiran kita, perkataan, dan perbuatan atau
tindakan kita sesuai dengan keinginan Tuhan. Semua pikiran kita, perkataan, dan
perbuatan dapat terjadi dan terungkap melalui bagian-bagian tubuh kita. Kita
berpikir menggunakan bagian tubuh yang disebut otak. Kita berkata-kata
menggunakan bagian tubuh yang disebut mulut. Kita berbuat sesuatu atau
bertindak menggunakan bagian tubuh, misalnya: tangan atau kaki. Oleh karena
itu, apa pun yang kita pikirkan, semua kata yang kita keluarkan, setiap
tindakan yang kita lakukan; semuanya harus benar, sesuai ajaran Tuhan dan
berkenan kepada-Nya. Itulah yang dimaksud dengan ibadah yang sejati. Memberikan
diri kita sepenuhnya kepada Allah.
Oleh karena itu, segala tindakan yang
kelihatan oleh mata manusia seperti: berdoa, berbakti, membaca Alkitab, menolong
orang lain, berbuat baik, jika tidak dilakukan dengan tulus dan jujur di
hadapan Tuhan, tidaklah dapat dikatakan sebagai ibadah yang benar. Itu hanya
sandiwara atau pura-pura. Allah menyelidiki dan melihat ketulusan hati kita,
bukan hanya tindakan yang kita lakukan.
Ada
banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai
tindakan nyata ibadah yang sejati, misalnya: kita menggunakan otak kita untuk merancang
dan merencanakan hal-hal yang baik dan benar, mulut digunakan untuk mengatakan
hal yang baik dan benar atau untuk memuji teman bukan mengeluarkan kata-kata yang
menyakiti, tangan kita gunakan untuk membantu orang tua, kaki digunakan untuk
bergegas menolong sahabat bukan untuk menendang orang lain ketika marah, dan
telinga untuk mendengarkan nasihat guru atau pelajaran di sekolah. Tindakan nyata
lainnya yang dapat kita lakukan adalah melayani orang yang lemah, menolong
orang miskin, membantu orang yang kesusahan,
menghibur teman yang sedih, bersahabat dengan semua orang, berkata jujur kepada
semua orang, bersikap ramah dan sopan, serta tidak mementingkan diri sendiri.
Peserta didik yang memehami konsep ini akan mewujudnyatakan
ibadah yang benar melalui tindakan sederhana yang dapat dimulai di rumah mereka
sendiri, yaitu patuh dan taat kepada orang tua, menyayangi kakak dan adik, rajin
belajar, rajin membuat pekerjaan rumah, rajin ke sekolah, serta tidak terlambat
ke sekolah atau Sekolah Minggu.
Dengan demikian ibadah yang benar tidak hanya
dilakukan di gereja atau tempat ibadah namun dilakukan di semua tempat, di mana
saja: di rumah, di sekolah, di jalan, di tempat bermain atau juga rekreasi, di
mal, dan di semua lokasi. Ibadah yang benar tidak hanya dilakukan pada hari
Minggu namun pada setiap hari, setiap saat; dan ditujukan kepada semua orang.
Itu berarti kita harus menjaga setiap sikap, perkataan dan tindakan kita. Kita
tidak boleh menyakiti hati siapapun, kita harus berlaku adil, jujur, benar, dan
selalu mau memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan, khususnya kepada
orang-orang miskin dan menderita.
Kalau begitu, apa dampak melakukan ibadah
yang sejati? Dampaknya, di antaranya adalah adanya suatu jaminan perlindungan,
ketenteraman, kedamaian dan berkat yang mengalir sampai pada anak cucu, seperti
yang tertulis dalam Mazmur 89:21-30. Janji Tuhan ini sungguh luar biasa. Oleh karena
itu kita harus mampu mempraktikkan sikap hidup, tabiat, perbuatan, karakter
atau pola pikir yang sesuai dengan keinginan Tuhan. Dalam mewujudnyatakan
semuanya itu, ingat nasihat Kolose 3:23 “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah
dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.
2.1.3.
Hakikat PAK
Hakikat PAK seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi PAK di
Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan secara terencana dan
berkelanjutan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan
Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus
Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan
hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran
PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam
kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.
2.1.4.
Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Menurut Udin (2007:1.18) pembelajaran
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi, dan
meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Oleh
karena pembelajaran merupakan upaya sistematis dan sistemik untuk menginisasi,
memfasilitasi, dan meningkatkan proses belajar maka kegiatan pembelajaran
berkaitan erat dengan jenis hakikat, dan jenis belajar serta hasil belajar
tersebut. Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses
belajar terjadi karena pembelajaran.
Proses belajar terjadi juga dalam konteks
interaksi sosial-kultural dalam lingkungan masyarakat. Dalam Hamdani (2011: 23)
menurut aliran behavioristik pembelajaran merupakan usaha guru untuk membentuk
tingkah laku yang diinginkan dengan menggunakan lingkungan atau stimulus.
Berbicara tentang pembelajaran PAK,
dijelaskan bahwa Pendidikan Agama Kristen telah ada sejak pembentukan umat Allah yang
dimulai dengan panggilan terhadap Abraham. Hal ini berlanjut dalam lingkungan
dua belas suku Israel sampai dengan zaman Perjanjian Baru. Sinagoge atau rumah
ibadah orang Yahudi bukan hanya menjadi tempat ibadah melainkan menjadi pusat
kegiatan pendidikan bagi anak-anak dan keluarga orang Yahudi. Beberapa nats
berikut ini dipilih untuk mendukungnya, yaitu:
1. Kitab Ulangan 6:4 9
Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengajarkan tentang kasih Allah
kepada anak-anak dan kaum muda. Perintah ini kemudian menjadi kewajiban
normatif bagi umat Kristen dan lembaga gereja untuk mengajarkan kasih Allah. Dalam
kaitannya dengan PAK, bagian Alkitab ini telah menjadi dasar dalam menyusun dan
mengembangkan Kurikulum dan Pembelajaran PAK.
2. Amsal 22:6
Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa
tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.
3. Injil Matius 28:19 20
Yesus Kristus memberikan amanat kepada tiap orang percaya untuk pergi ke
seluruh penjuru dunia dan mengajarkan tentang kasih Allah. Perintah ini telah
menjadi dasar bagi tiap orang percaya untuk turut bertanggung jawab terhadap
PAK. Sejarah perjalanan agama Kristen turut dipengaruhi oleh peran PAK. Lembaga
gereja, lembaga keluarga dan sekolah secara bersama-sama bertanggung jawab
dalam tugas mengajar dan mendidik anak-anak, remaja, dan kaum muda untuk
mengenal Allah Pencipta, Penyelamat, Pembaru, dan mewujudkan ajaran itu dalam
kehidupan sehari-hari.
Jadi, Pembelajaran PAK adalah upaya
sistematis dan sistemik untuk menginisiasi, memfasilitasi, dan meningkatkan
proses belajar PAK dengan maksud bahwa pembelajaran PAK adalah upaya menyampaikan
Injil atau Kabar Baik, yang disajikan dalam dua aspek, yaitu aspek Allah
Tritunggal dan Karya-Nya, dan aspek Nilai- ilai Kristiani. Secara holistik,
pengembangan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar PAK pada Pendidikan Dasar dan
Menengah mengacu pada dogma tentang Allah dan karya-Nya. Pemahaman terhadap
Allah dan karya-Nya harus tampak dalam nilai-nilai Kristiani yang dapat dilihat
dalam kehidupan keseharian peserta didik. Inilah dua aspek yang ada dalam
seluruh materi pembelajaran PAK dari SD sampai SMA/SMK.
Dapat dikatakan bahwa Pembelajaran Pendidikan
Agama Kristen secara umum bertujuan untuk memperkenalkan Allah Bapa, Putera dan
Roh Kudus dan karya-karyaNya serta menghasilkan manusia Indonesia yang mampu
menghayati imannya secara bertanggungjawab di tengah masyarakat. Dan secara khusus
bertujuan menanamkan nilai–nilai kristiani dalam kehidupan pribadi dan sosial
sehingga siswa mampu menjadikan nilai kristiani sebagai acuan.
Sehingga Pendidikan Agama Kristen yang
dilaksanakan di sekolah mengisyaratkan agar terjadinya transformasi dan
internalisasi nilai-nilai Kristiani bagi para peserta didik Transformasi dan
internalisasi nilai-nilai Kristiani bagi para peserta didik juga dapat
difasilitasi oleh para pendidik Pendidikan Agama Kristen. Dengan kata lain
Pendidikan Agama Kristen merupakan pendidikan nilai, sehingga diharapkan melaluinya
terjadi perubahan dan pembaruan, baik tentang pemahaman maupun sikap dan
perilaku.
Melalui
penyajian kurikulum maka Pendidikan Agama Kristen diharapkan siswa mampu
mengalami suatu proses transformasi nilai-nilai kehidupan berdasarkan iman
kristiani yang dipelajari dalam Pendidikan Agama Kristen.
Proses Pembelajaran PAK adalah proses
pembelajaran yang mengupayakan peserta didik mengalami pembelajaran melalui aktivitas-aktivitas
kreatif yang difasilitasi oleh Guru. Penjabaran kompetensi dalam pembelajaran
PAK dirancang sedemikian rupa sehingga proses dan hasil pembelajaran PAK
memiliki bentuk-bentuk karya, unjuk kerja dan perilaku atau sikap yang
merupakan bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dapat diukur melalui penilaian
sesuai kriteria pencapaian.
2.1.5. Media
Pembelajaran
Media pembelajaran adalah alat yang dapat
membantu proses belajar mengajar dan berfungsi untuk memperjelas makna pesan
yang disampaikan, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih baik
dan sempurna. Media Pembelajaran adalah sarana untuk meningkatkan kegiatan
proses belajar mengajar. (Cecep dan Bambang, 2011:8). Sejalan dengan pendapat
Munadi (2013: 7) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat
menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga
tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan
proses belajar secara efisien dan efektif.
Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah
media video, karena media video dapat menampilkan baik secara audio maupun
visual terkait konsep materi Ibadah yang sejati, sehingga anak mampu melihat pengalaman
nyata dan jelas tentang Ibadah yang sejati.
2.1.5.1.
Pengertian Media Pembelajaran Video
Menurut Daryanto (2013: 88) media video
adalah segala sesuatu yang memungkinkan sinyal audio dapat dikombinasikan
dengan gambar bergerak secara sekuensial. Program video dapat dimanfaatkan
dalam program pembelajaran, karena dapat memberikan pengalaman yang tidak
terduga kepada siswa, selain itu juga video dapat dikombinasikan dengan animasi
dan pengaturan kecepatan untuk mendemontrasikan perubahan dari waktu ke waktu.
Kemampuan video dalam memvisualisasikan materi terutama efektif untuk membantu menyampaikan
materi yang bersifat dinamis. Penelitian yang dilakukan oleh black,dkk (2014)
membuktikan bahwa media video dapat meningkatkan kinerja siswa. Selain itu
penelitian yang dilakukan oleh Mukminin membuktikan bahwa media audio visual
(video) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar service bawah
bola volli. Jadi media video sangat mendukung dan efektif digunakan dalam
penelitian ini.
Menurut Yudhi (2013: 127) media video
memiliki banyak kelebihan, diantaranya adalah :
1. Mengatasi keterbatasan jarak dan waktu.
2. Video dapat diulangi bila perlu untuk
menambah kejelasan.
3. Pesan yang disampaikannya cepat dan mudah diingat.
4. Mengembangkan pikiran dan pendapat para siswa.
5. Mengembangkan imajinasi peserta didik
6. Memperjelas hal-hal yang abstrak dan
memberikan gambaran yang lebih realistic.
7. Sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang.
8. Sangat baik menjelaskan suatu proses dan
keterampilan.
9. Semua peserta didik dapat belajar dari video.
10. Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.
11. Dengan video penampilan siswa dapat segera
dilihat kembali untuk dievaluasi.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa media video merupakan media kombinasi antara audio dan gambar bergerak.
Jadi media video sangat tepat digunakan dalam Pembelajaran PAK, karena dalam
menjelaskan Konsep Materi Ibadah Yang sejati denagn menampilkan gambar bergerak
berkombinasi dengan audio untuk menjelaskan. Media video juga memiliki banyak
kelebihan dan kemampuan untuk meningkatkan kinerja siswa atau aktivitas siswa
dalam pembelajaran. Dengan demikian media video dapat menarik perhatian siswa
dan menumbuhkan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran, sehingga siswa akan
lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran.
2.1.5.2.
Langkah-Langkah Pemanfaatan Video
Pemanfaatan video dalam proses pembelajaran
hendaknya memperhatikan hal-hal berikut (Munadi, 2013: 127):
a. Program Video harus dipilih agar sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
b. Guru harus mengenal program video untuk
mengetahui manfaatnya bagi pelajaran.
c. Sesudah program video dipertunjukkan, perlu
diadakan diskusi.
d. Adakalanya program video tertentu perlu
diputar dua kali atau lebih untuk memperhatikan aspek-aspek tertentu.
e. Agar siswa tidak memandang program video
sebagai media hiburan belaka, sebelumnya perlu ditugaskan untuk memperhatikan
bagian-bagian tertentu.
f. Sesudah itu dapat dites berapa banyaklah yang
mereka tangkap dari program video itu.
Langkah-langkah pemanfaatan media video di atas
digunakan peneliti untuk menerapkan media video dalam pembelajaran PAK dengan
materi tentang Ibadah yang sejati menggunakan model pembelajaran TPS berbantuan
media video.
2.1.6. Model
Pembelajaran Kooperatif
Menurut Suprijono (2013: 54) pembelajaran
kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok
termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.
Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, guru
menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan
informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah
yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.
Model pembelajaran kooperatif membuka peluang
bagi upaya untuk mencapai tujuan meningkatkan keterampilan sosial siswa.
Berikut merupakan lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif sebagaimana
dikemukakan Roger dan Johnson (1992) dalam Suprijono (2013: 58).
Lima unsur pembelajaran kooperatif yaitu: (1)
Saling ketergantungan positif. Setiap anggota dalam kelompok saling bekerjasama
untuk paham terhadap bahan yang menjadi tugas mereka; (2) Pembelajaran
kooperatif adalah tanggung jawab individual, artinya setelah mengikuti kelompok
belajar bersama, anggota kelompok harus dapat menyelesaikan tugas yang sama;
(3) Pembelajaran kooperatif adalah ketergantungan positif; (4) Pembelajaran
kooperatif adalah keterampilan sosial dimana menuntut siswa untuk saling
mengenal, mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius, saling menerima
dan mendukung, dan mampu menyelesaikan konflik bersama; (5) Pembelajaran kooperatif
adalah pemprosesan kelompok, siswa dituntut untuk memberikan kontribusi
kegiatan di dalam kelompok.
Kelima unsur di atas, jika dilaksanakan
dengan baik, maka akan menghasilkan hasil belajar yang maksimal. Model
pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa
prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan
sosial. Pembelajaran kooperatif melibatkan siswa secara aktif untuk bekerjasama
dalam kelompok.
Penerapan model pembelajaran kooperatif lebih
diarahkan oleh guru namun bukan berarti pembelajaran kooperatif hanya berpusat
pada guru. Pada pembelajaran kooperatif guru menetapkan tugas dan
pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan dan informasi yang dirancang. Hal
itu untuk membantu siswa menyelesaikan kesulitan dan masalah dalam
pembelajaran. Penerapan model pembelajaran kooperatif yang baik harus memiliki
ciri-ciri dan memenuhi lima unsur yang telah dijelaskan sebelumnya. Jadi, model
pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengaktifkan siswa
sepanjang proses pembelajaran.
2.1.7. Model
Pembelajaran TPS (Think Pair Share)
2.1.7.1.
Pengertian Model Pembelajaran TPS
Menurut Huda (2013: 206) TPS merupakan
strategi pembelajaran yang dikemukakan pertama kali oleh Profesor Frank Lyman
di University of Maryland pada 1981 dan diadopsi oleh para penulis di bidang
pendidikan pembelajaran kooperatif pada tahun-tahun selanjutnya. Strategi ini
memperkenalkan gagasan tentang waktu, tunggu atau berpikir‟ (wait or think
time) pada elemen interaksi pembelajaran kooperatif yang saat ini menjadi salah
satu faktor ampuh dalam meningkatkan respons siswa terhadap pertanyaan.
Menurut Huda (2013: 207) langkah-langkah
model pembelajaran TPS adalah sebagai berikut:
1. Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok.
Setiap kelompok terdiri dari 4 anggota/siswa.
2. Guru memberikan tugas pada setiap kelompok.
3. Masing-masing anggota memikirkan dan
mengerjakan tugas tersebut sendirisendiri.
4. Kelompok membentuk anggotanya secara
berpasangan. Setiap pasangan mendiskusikan hasil pengerjaan individunya.
5. Kedua pasangan lalu bertemu kembali dalam
kelompok untuk menshare hasil diskusinya.
Menurut Shoimin (2014: 208) TPS adalah suatu
model pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berpikir dan
merespons serta saling membantu. Pembelajaran model TPS ini relative lebih
sederhana karena tidak menyita waktu yang lama untuk mengatur tempat duduk
ataupun mengelompokkan siswa. Pembelajaran ini melatih siswa untuuk berani berpendapat
dan menghargai pendapat teman.
Model pembelajaran TPS merupakan salah satu
model pembelajaran kooperatif menurut Suprijono (2013: 91) pembelajaran ini
diawali dengan guru memberi pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk
dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberikan kesempatan mereka untuk
berpikir. Tahap selanjutnya guru meminta mereka untuk saling
berpasang-pasangan. Dan hasil diskusi dari setiap pasangan kemudian dibicarakan
dengan pasangan seluruh kelas.
Menurut Shoimin (2014: 211) langkah-langkah
pembelajaran TPS yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Langkah 1: Berpikir (Thinking)
Guru mengajukan pertanyaan atau masalah yang terikait dengan pelajaran, pertanyaan
yang mengajak berpikir keseluruh kelas berupa pertanyaan terbuka yang
memungkinkan dijawab dengan berbagai macam jawaban.
2. Langkah
2: Berpasangan (Pairing)
Tahap ini siswa diminta berpikir individu. Selanjutnya guru meminta
siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan pertanyaan atau masalah yang
diberikan guru. Lama waktu yang disediakan sesuai pemahaman guru terhadap
siswanya, sifat pertanyaan dan jadwal pembelajaran. Dan guru meminta siswa
untuk menulis jawaban.
3.
Langkah 3: Berbagi (Sharing)
Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan atau perwakilan siswa
untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Seluruh siswa
akan memperoleh keuntungan tentang konsep yang dinyatakan tentang apa yang
dijelaskan oleh masing-masing pasangan.
Model Pembelajaran TPS merupakan salah satu
model pembelajaran yang efektif untuk digunakan guru di dalam pembelajaran
karena model pembelajaran TPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Dibuktikan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Indriani (2014)
menunjukkan bahwa model pembelajaran TPS dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.
Berdasarkan paparan, membuktikan bahwa model
TPS tepat digunakan sebagai model yang efektif dalam pembelajaran sehari-hari.
Adapun langkah-langkah pembelajaran TPS yang digunakan sebagai acuan tindakan
penelitian ini yaitu langkah-langkah yang dicetuskan oleh Shoimin.
2.1.7.2.
Kelebihan Model Pembelajaran TPS
Menurut Shoimin (2014: 211) kelebihan model
pembelajaran TPS adalah sebagai berikut:
1. Dapat diterapkan di berbagai jenjang
pendidikan dan setiap kesempatan.
2. Memiliki waktu berpikir untuk meningkatkan
kualitas respon siswa.
3. Siswa menjadi lebih aktif dalam berpikir
mengenai konsep dalam mata pelajaran.
4. Siswa lebih memahami tentang konsep topik
pelajaran selama diskusi.
5. Siswa dapat saling berbagi satu sama lain.
6. Masing-masing siswa mempunyai kesempatan
untuk berbagi atau menyampaikan idenya.
2.1.7.3.
Kekurangan Model Pembelajaran TPS
Menurut Shoimin (2014: 212) kekurangan model
pembelajaran TPS adalah sebagai berikut:
1. Banyak kelompok yang melapor dan perlu
dimonitor.
2. Lebih sedikit ide yang muncul.
3. Jika ada perselisihan, tidak ada penengah
Untuk mengatasi kelemahan tersebut, solusi
yang digunakan adalah keterampilan guru. Guru harus secara optimal memberikan
rangsangan agar ide yang muncul lebih banyak. Serta guru harus secara maksimal
membimbing kelompok kecil agar guru bisa mengatur diskusi kelompok serta
menjadi penengah ketika ada perselisihan dari setiap pasangan.
2.1.8. Penerapan
Pembelajaran PAK melalui Model TPS berbantuan MediaVideo
Pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran TPS berbantuan Video akan menumbuhkan minat siswa dalam
pembelajaran. Media video tentang Ibadah yang sejati akan ditayangkan, maka
perhatian siswa akan terfokus pada video yang ditayangkan. Kemudian guru
memberi pertanyaan pembuka untuk merangsang rasa ingin tahu siswa, dan
masing-masing siswa harus berpikir sendiri untuk mengembangkan ide yang
ditemukan. Kemudian mereka berpasangan untuk saling berbagi pendapat. Setelah
itu mereka mengemukakan hasil yang mereka dapatkan.
Adapun modifikasi langkah-langkah
pembelajaran melalui Model pembelajaran TPS menurut Aris Shoimin dan berbantuan
media video menurut Yudhi Munadi dalam Pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan video yang sesuai dengan materi
untuk siswa.
2. Memutarkan video yang berkaitan dengan materi
untuk merangsang ide siswa.
3. Memberikan pertanyaan atau masalah yang
sesuai untuk merangsang ide siswa.
4. Meminta siswa untuk menuliskan jawaban dari
permasalahan yang diajukan guru sesuai dengan ide yang dipikirkan.
5. Memasangkan siswa untuk berdiskusi dari hasil
jawaban yang dituliskan.
6. Membimbing diskusi kelompok kecil.
7. Meminta pasangan untuk menyampaikan hasil
diskusi didepan kelas.
8. Meneruskan pemutaran video.
9. Menjelaskan dan mengkonfirmasi tentang materi
yang berkaitan.
2.2.
Kajian Empiris
Penelitian yang dilakukan oleh Eni Muntarof
pada tahun 2013 yang berjudul “Penerapan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share
Dalam Meningkatkan Pembelajaran Matematika Di Kelas IV SD” menunjukkan bahwa 44
hasil belajar siswa pada siklus I memperoleh hasil ketuntasan sebesar 80% kemudian
pada siklus II dan III memperoleh hasil ketuntasan sebesar 90%. Aktivitas siswa
pada siklus I memperoleh skor 61,67%, siklus II 74,33%, dan siklus III 81,33%.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa model TPS dapat meningkatkan aktivitas
siswa dan hasil belajar siswa.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Murni
pada tahun 2013 berjudul “Peningkatan Aktivitas Pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial Menggunakan Teknik TPS di kelas IV” juga menunjukkan peningkatan yang
signifikan pada aktivitas belajar siswa. Aktivitas fisik pada siklus I
meningkat menjadi 66,7% dan siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 84,72%.
Aktivitas mental siswa pada siklus I meningkat menjadi 67,78% dan siklus 2 juga
mengalami peningkatan sebesar 84,4%. Sedangkan pada aktivitas emosional
peningkatan pada siklus I mencapai 72,22% dan pada siklus 2 meningkat hingga
84,4%. Artinya, model pembelajaran TPS mampu meningkatkan aktivitas belajar
siswa.
Penelitian selanjutnya tentang keefektifan
media pembelajaran video yang dilakukan oleh Nurul Aprindyana pada tahun 2013
yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar IPA Menggunakan Media Video pada Siswa
Kelas IV SDN Karangpilang I Surabaya”. Pada penelitian tersebut menunjukkan
bahwa penggunaan media video dapat meningkatkan keterampilan guru,aktivitas
siswa, dan ketuntasan belajar. Pada siklus I aktivitas guru mencapai persentase
sebesar 64,7% dan meningkat pada siklus 2 menjadi 81,8%. Sedangkan pada
aktivitas siswa, pada siklus I sebesar 73,25% dan siklus ke 2 menjadi 89,9%.
Pada ketuntasan belajar klasikal siswa terjadi perubahan yang signifikan.
Penelitian-penelitian yang telah dilakukan
tersebut digunakan sebagai pendukung dalam penelitian yang dilakukan peneliti
dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran TPS Berbantuan Media Video untuk
Meningkatkan Pemahaman Konsep materi Ibadah yang sejati Pembelajaran PAK Pada
Kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama.
2.3.
Kerangka Berpikir
Hasil belajar pada pembelajaran PAK siswa
kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama belum optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa
hal, antara lain adalah guru kurang variatif dalam memberikan pembelajaran,
kurang adanya pemanfaatan media, serta interaksi antara guru dan siswa kurang
berjalan dengan baik. Pengelolaan kelas yang kurang maksimal serta proses
pembelajaran yang hanya berpusat pada guru mengakibatkan siswa kurang aktif
dalam pembelajaran.
Menurut Isjoni (2014: 23) dengan melaksanakan
model pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa untuk mengembangkan
pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan secara penuh dalam suasana belajar
yang terbuka dan demokratis. Siswa bukan lagi sebagai objek pembelajaran, namun
bisa juga sebagai tutor teman sebaya. Model pembelajaran TPS dapat melatih
siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri, keterlibatan siswa secara
aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.
Keberhasilan proses belajar mengajar pada
Pembelajaran PAK dapat diamati dengan keberhasilan guru dalam mengajar yaitu
meningkatnya keterampilan mengajar guru, yang memenuhi keterampilan dasar
mengajar guru, keberhasilan siswa yang mengikuti pembelajaran, keberhasilan itu
sendiri dapat dilihat dari tingkat aktivitas belajar dan hasil belajar siswa.
Semakin tinggi penguasaan materi dan aktivitas belajar siswa, maka semakin
tinggi pula tingkat keberhasilan dalam pembelajaran yang ditandai dengan
meningkatnya hasil belajar siswa. Dengan menerapkan model kooperatif tipe TPS
dalam kegiatan pembelajaran, siswa akan mampu berfikir kritis dan dapat
meningkatkan aktivitasnya pada saat diskusi.
Skema kerangka berpikir dalam penelitian ini
dapat ditunjukkan dengan bagan di bawah ini:
Bagan 2.1
Kerangka Alur Berpikir
2.4.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori, kajian empiris dan
kerangka berpikir yang telahdiuraikan sebelumnya, hipotesis tindakan dalam penelitian
ini adalah:
a. Penerapan model TPS berbantuan media video
pada Pembelajaran PAK pada kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama mampu meningkatkan
keterampilan guru dalam pembelajaran PAK
b. Penerapan model TPS berbantuan media video
pada Pembelajaran PAK pada kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama mampu meningkatkan aktivitas
siswa dalam pembelajaran PAK
c. Penerapan model TPS berbantuan media Video
pembelajaran PAK pada kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama mampu meningkatkan pemahaman
siswa dalam pembelajaran PAK.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.
RANCANGAN PENELITIAN
Terdapat
berbagai model penelitian tindakan kelas yang dikemukakan para ahli. Namun
secara umum siklus penelitian terdiri dari empat tahapan yang dilalui yaitu
perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi (observing),
dan refleksi (reflecting) (Arikunto, 2008: 16). Alur penelitian tindakan
kelas dapat dilihat dalam bagan berikut:

Bagan
3.1 Tahap PTK
Adapun penjelasan masing-masing tahapan penelitian tindakan kelas
adalah sebagai berikut:
3.1.1.
Perencanaan
Perencanaan
merupakan tahapan awal yang harus dilakukan oleh peneliti untuk melaksanakan
PTK. Langkah dalam perencanaan ini terdiri dari: 1) Identifikasi masalah; 2)
menganalisis dan merumuskan masalah; 3) analisis akar penyebab masalah; 4)
pengembangan intervensi (pemecahan masalah); dan 5) menyusun rancangan tindakan.
Dalam
pelaksanaan PTK ini (Mulyasa, 2011: 67), perencanaan yang dilakukan adalah:
a.
Menelaah kompetensi inti,
kompetensi dasar, materi dan Indikator Pencapaian Kompetensi.
b.
Menyusun RPP sesuai dengan
indikator yang ditetapkan dan scenario pembelajaran PAK melalui model
pembelejaran TPS berbantuan media video.
c.
Menyiapkan sumber dan media
pembelajaran video sesuai dengan materi yang akan diperbaiki yaitu Ibadah yang
sejati.
d.
Menyiapkan alat tes evaluasi
berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.
e.
Menyiapkan lembar observasi
untuk mengamati aktivitas siswa dan keterampilan guru dalam pembelajaran berupa
tabel observasi.
3.1.2.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan
tindakan merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan yang telah
dilaksanakan, hal yang pelu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan adalah guru
harus menaati apa yang telah dirumuskan dalam rancangan dan tidak dibuat-buat.
Selain itu guru harus melaksanakan penelitian secara wajar dan tidak
dibuat-buat. (Arikunto, 2008: 18).
PTK ini
dilaksanakan selama tiga siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam satu kali
pembelajaran. Siklus pertama yang dilakukan pembelajaran PAK dengan model pembelajaran TPS berbantuan media
video. Pada siklus 1 membahas tentang Kisah Anto dan belajar dari Alkitab, belum
mencapai indikator keberhasilan.
Oleh
karena itu dilanjutkan siklus ke 2 dengan kegiatan mendalami materi Ibadah yang
sejati dengan menerapkan perbaikan pada siklus 1 serta tetap menerapkan model
pembelajaran TPS berbantuan media video. Siklus ke 3 dengan materi menghayati
Ibadah yang sejati yang dilakukan dengan mengevaluasi dan memperbaiki
kekurangan selama pelaksanaan dari siklus 2. Pelaksanaan siklus tersebut
bersifat menyesuaikan, dan pada penelitian ini siklus dilaksanakan sampai
siklus ke 3.
Pelaksanaan
tindakan ini merupakan pelaksanan pembelajaran yang merupakan implementasi dari
RPP, pelaksanaan tindakan itu sendiri meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan
inti dan kegiatan penutup. (BNSP, 2007:14).
3.1.3.
Observasi
Pada
pelaksanaan tindakan guru harus melakukan observasi secara rinci dan teliti,
karena observasi tersebut akan berfungsi untuk mendokumentasikan perubahan
tindakan baik proses maupun hasilnya, yang akan digunakan sebagai refleksi oleh
peneliti maupun guru, dan sebagai dasar untuk melakukan perencanaan dan tindak
lanjut. (Arikunto, 2008:19).
Pengumpulan
data pada penelitian tindakan kelas ini melalui observasi yang dilakukan bersamaan
dengan penelitian tindakan. Dalam penelitian ini aspek-aspek yang diamati/
diobservasi adalah keterampilan guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran
dengan menggunakan instrument yang telah disusun.
3.1.4.
Refleksi
Refleksi
adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang
telah terjadi pada siswa, guru, dan suasana kelas. Pada tahap ini guru sebagai
peneliti menjawab pertanyaan mengapa (why), bagaimana (how), sejauh mana (to
what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan.
(Arikunto, 2008:19).
Berdasarkan
hasil analisis, peneliti melakukan refleksi, dengan mengkaji proses
pembelajaran yaitu keterampilan guru dan aktivitas siswa, serta pemahaman siswa
kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama, keefektifan proses pembelajaran dapat dilihat
dari ketercapaian indikator kinerja pada siklus pertama. Kemudian tim guru membuat
tindak lanjut perbaikan untuk siklus berikutnya mengacu pada siklus sebelumnya.
3.2.
PROSEDUR
PELAKSANAAN PENELITIAN
Penelitian
dengan menerapkan model pembelajaran TPS berbantuan media video dilaksanakan
dalam tiga siklus masing-masing terdiri dari satu pembelajaran. Adapun rincian
kegiatan pembelajarannya adalah sebagai berikut:
3.2.1.
Siklus
Pertama
3.2.1.1.
Perencanaan
Tahap perencanaan meliputi :
a.
Menelaah standar kompetensi,
kompetensi standar, materi dan indikator mata pelajaran, khususnya PAK di kelas
VI semester 1.
b.
Menyusun perangkat
pembelajaran dengan materi Ibadah yang sejati dengan sub materi Kisah Anto dan
belajar dari Alkitab menggunakan langkah-langkah pembelajaran PAK melalui model
TPS berbantuan media video.
c.
Menyiapkan media video yang
berkaitan dengan Ibadah yang sejati serta menyiapkan sumber belajar berupa
buku.
d.
Menyiapkan alat evaluasi
berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.
e.
Menyiapkan lembar observasi
dan instrument penilaian untuk mengamati keterampilan guru, aktivitas siswa,
dan hasil belajar siswa.
3.2.1.2. Pelaksanaan
Tindakan
Pelaksanaan tindakan meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan
kegiatan akhir.
1.
Guru masuk dan memberikan
salam.
2.
Guru mengkondisikan kelas.
3.
Guru mengajak siswa bernyanyi
dan berdoa.
4.
Guru mengechek kehadiran
siswa.
5.
Guru memberikan apersepsi
dengan menanyakan “siapa yang sering beribadah?” kemudian melanjutkan
pertanyaan dengan “berapa kali kalian beribadah dalam satu Minggu?”
6.
Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran
7.
Guru memutarkan video pembelajaran
tentang Ibadah yang sejati. (Eksplorasi)
8.
Siswa memperhatikan video
yang diputar di depan kelas. (Elaborasi)
9.
Guru mengajukan pertanyaan
kepada siswa “Bagaimana menurutmu makna Ibdah yang sejati setalah kamu
mengamati video tadi ?” (Eksplorasi)
10. Siswa menuliskan jawaban dari pertanyaan guru. (Elaborasi)
11. Guru meminta siswa untuk saling berpasangan dengan teman
sebelahnya.
12. Siswa berdiskusi dan bertukar pikiran dengan pasangannya dari jawaban
yang sudah mereka tulis. (Elaborasi)
13. Guru meminta pasangan untuk menjelaskan hasil diskusi kedepan
kelas. (Eksplorasi)
14. Masing-masing pasangan berbagi hasil diskusinya kepada pasangan
lain. (Elaborasi)
15. Pasangan lain menyimak penjelasan dari pasangan yang menyampaikan pendapatnya
kedepan kelas. (Elaborasi)
16. Guru meminta kelompok lain untuk memberi tanggapan kepada kelompok yang
menyampaikan penjelasannya. (Eksplorasi)
17. Siswa lain memberikan tanggapan kepada kelompok yang menjelaskan
dan menjelaskan hasil diskusinya. (Elaborasi).
18. Guru memutarkan lagi video tentang Ibadah yang Sejati. (Eksplorasi)
19. Sambil memutarkan video guru menjelaskan materi Ibadah yang sejati.
(Eksplorasi)
20. Guru memberikan penguatan kepada siswa. (Konfirmasi)
21. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang belum
diketahui. (Eksplorasi)
22. Siswa bersama guru menyampaikan hasil diskusi yang telah
dilaksanakan bersama.
23. Guru dan siswa melakukan refleksi.
24. Guru memberikan soal evaluasi.
25. Siswa berdoa dengan tenang.
3.2.1.3. Observasi
Selama
penelitian berlangsung peneliti melakukan observasi terhadap siswa, dan suasana
kelas dalam kegiatan pembelajaran.
a.
Melalui lembar observasi
aktivitas siswa, peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan
pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil pekerjaan tugas
siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran.
b.
Melalui lembar catatan
lapangan, peneliti menuliskan suasana kelas pada saat pembelajaran.
3.2.1.4. Refleksi
a.
Mengkaji pelaksanaan
pembelajaran dan efek tindakan pada siklus I.
b.
Mengevaluasi secara umum
proses dan hasil pembelajaran siklus I.
c.
Membuat daftar permasalahan
yang muncul pada siklus I. Adapun daftar permasalahan yang muncul di antaranya
yaitu:
1.
Media pembelajaran berupa
video yang belum dapat menarik perhatian siswa karena suara yang ada didalam
video tersebut kurang bisa didengar siswa. Sehingga beberapa siswa ramai
sendiri dan tidak memperhatikan video.
2.
Guru belum menyiapkan materi,
sehingga pada saat menjelaskan masih banyak siswa yang belum paham.
3.
Guru belum memberikan umpan
balik ketika siswa menyampaikan hasil diskusi.
4.
Inisiatif siswa dalam
mengajukan pertanyaan masih rendah.
5.
Beberapa soal dalam evaluasi
tidak dibahas guru saat pembelajaran.
d.
Memperbaiki kelemahan untuk
siklus 2.
c.
Merencanakan perencanaan
tindak lanjut untuk siklus 2.
3.2.2.
Siklus
Kedua
3.2.2.1.
Perencanaan
Perencanaan yang
dilakukan pada siklus kedua adalah memperbaiki dan menyempurnakan pembelajaran
yang telah dilaksanakan pada siklus pertama.
Tahap
prencanaan meliputi :
a.
Menelaah standar kompetensi,
kompetensi standar, materi dan indikator mata pelajaran, khususnya PAK di kelas
VI semester 1.
b.
Menyusun perangkat
pembelajaran pendalaman materi Ibadah yang sejati menggunakan langkah-langkah
pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan media video.
c.
Menyiapkan media video yang
berkaitan dengan kegiatan manusia yang mempengaruhi daur air serta menyiapkan
sumber belajar berupa buku.
d.
Guru menyiapkan pengeras
suara agar video lebih jelas terdengar oleh siswa.
e.
Guru menyiapkan materi agar
lebih jelas ketika menjelaskan.
f.
Menyiapkan alat evaluasi
berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.
g.
Menyiapkan lembar observasi
dan instrument penilaian untuk mengamati keterampilan guru, aktivitas siswa,
dan hasil belajar siswa.
3.2.2.2.
Pelaksanaan
Tindakan
Pelaksanaan tindakan
meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
1. Salam
Guru masuk dan memberikan salam.
2.
Guru mengkondisian kelas.
3.
Guru mengajak siswa untuk
berdoa.
4.
Guru mengechek kehadiran
siswa.
5.
Guru melakukan apersepsi
dengan membahas sekilas tentang materi sebelumnya yaitu tentang materi daur air
dan mencoba menggali pengetahuan siswa hubungan antara daur air dan kegiatan
manusia yang mempengaruhinya.
6.
Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran.
7.
Guru memutarkan video
pancingan tentang Orang-orang yang menderita kemiskinan. (Eksplorasi)
8.
Siswa memperhatikan video
yang diputarkan guru didepan kelas. (Elaborasi)
9.
Guru mengajukan pertanyaan
kepada siswa “Apa yang kalian lakukan jika seperti kalian ada di posisi Anto
dalam kisah dalam video?” (Eksplorasi)
10. Siswa menuliskan jawaban dari pertanyaan guru. (Elaborasi)
11. Guru meminta siswa untuk saling berpasangan dengan teman
sebelahnya.
12. Siswa berdiskusi dan bertukar pikiran dengan pasangannya dari
jawaban yang sudah mereka tulis. (Elaborasi)
13. Guru meminta pasangan untuk menjelaskan hasil diskusi kedepan
kelas. (Eksplorasi)
14. Masing-masing pasangan berbagi hasil diskusinya kepada pasangan
lain. (Elaborasi)
15. Pasangan lain menyimak penjelasan dari pasangan yang menyampaikan pendapatnya
kedepan kelas. (Elaborasi)
16. Guru meminta kelompok lain untuk memberi tanggapan kepada kelompok yang
menyampaikan penjelasannya. (Eksplorasi)
17. Siswa lain memberikan tanggapan kepada kelompok yang menjelaskan. (Elaborasi)
18. Guru menyajikan materi tentang Pendalaman Materi Ibadah yang Sejati
dengan menggunakan media video. (Eksplorasi)
19. Guru menjelaskan tentang Pendalaman Materi Ibadah yang Sejati. (Eksplorasi)
20. Siswa mendengarkan dan memperhatikan materi tentang Pendalaman
Materi Ibadah yang Sejati dengan menggunakan media video oleh guru menggunakan
media video. (Elaborasi)
21. Guru memberikan penguatan atau umpan balik kepada siswa.
(Konfirmasi)
22. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang belum
diketahui. (Eksplorasi)
23. Siswa bersama guru menyampaikan hasil diskusi yang telah
dilaksanakan bersama.
24. Guru dan siswa melakukan refleksi.
25. Guru memberikan soal evaluasi.
26. Guru memberikan pemantapan kepada siswa.
27. Siswa berdoa dengan tenang.
3.2.2.3.
Observasi
Seperti pada siklus
pertama, selama penelitian berlangsung peneliti berkolaborasi dengan guru lain melakukan
observasi terhadap siswa dalam kegiatan pembelajaran.
a. Melalui
lembar observasi keterampilan guru, guru mengamati keterampilan guru dalam
pembelajaran. Aspek yang dinilai adalah bagaimana guru dalam menyampaikan
pelajaran dan perilaku guru selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
b. Melalui
lembar observasi aktivitas siswa, peneliti mengamati tingkah laku siswa selama
kegiatan pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil
pekerjaan tugas siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan
pembelajaran.
c. Melalui
lembar catatan lapangan, peneliti menuliskan suasana kelas pada saat pembelajaran.
3.2.2.4. Refleksi
a. Mengkaji
pelaksanaan pembelajaran dan efek tindakan pada siklus 2.
b. Mengevaluasi
secara umum proses dan hasil pembelajaran siklus 2.
c. Membuat
daftar permasalahan yang muncul pada siklus 2. Adapun daftar permasalahan yang
muncul di antaranya yaitu:
1. Pengaturan
pada LCD yang digunakan kurang besar sehingga siswa banyak yang protes
untuk layar lebih besar.
2. Dalam
menyampaikan pendapat siswa masih malu-malu dan harus ditunjuk
3. Guru
tidak memberikan reward sehingga pembelajaran kurang menarik minat siswa.
4. Minat
siswa untuk bertanya masih rendah.
d. Memperbaiki
kelemahan siklus 2.
e. Merencanakan
perencanaan tindak lanjut untuk siklus 3.
3.2.3.
Siklus Ketiga
3.2.3.1. Perencanaan
Perencanaan yang
dilakukan pada siklus ketiga adalah memperbaiki dan menyempurnakan pembelajaran
yang telah dilaksanakan pada siklus kedua.
Tahap
perencanaan meliputi :
a. Menelaah
standar kompetensi, kompetensi standar, materi dan indikator mata pelajaran,
khususnya PAK di kelas VI semester 1.
b. Menyusun
perangkat pembelajaran dengan materi menghayati Ibadah yang sejati menggunakan
langkah-langkah pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan media video.
c. Menyiapkan
media video yang berkaitan dengan penghayatan makna serta menyiapkan sumber dan
alat peraga.
d. Menyiapkan
reward agar lebih menarik aktivitas siswa.
e. Menyiapkan
alat evaluasi berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.
f. Menyiapkan
lembar observasi dan instrument penilaian untuk mengamati keterampilan guru,
aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.
3.2.3.2. Pelaksanaan
Tindakan
Pelaksanaan tindakan
meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
1.
Salam Guru masuk dan
memberikan salam.
2.
Guru mengkondisian kelas.
3.
Guru mengajak siswa untuk
berdoa.
4.
Guru mengechek kehadiran
siswa.
5.
Guru melakukan apersepsi
dengan membahas sekilas tentang materi sebelumnya yaitu tentang pendalamaan
materi Ibadah yang sejati.
6.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
7.
Guru memutarkan video
pancingan seputar menghayati Ibadah yang sejati. (Eksplorasi)
8.
Siswa memperhatikan video
yang diputarkan didepan kelas.
9.
Guru mengajukan pertanyaan
kepada siswa “Coba tuliskan kegiatan apa saja yang kamu lakukan yang menunjukkan
ibadah yang sejati?” (Eksplorasi)
10. Siswa menuliskan jawaban dari pertanyaan guru. (Elaborasi)
11. Guru meminta siswa untuk saling berpasangan dengan teman
sebelahnya.
12. Siswa berdiskusi dan bertukar pikiran dengan pasangannya dari
jawaban yang sudah mereka tulis. (Elaborasi)
13. Guru meminta pasangan untuk menjelaskan hasil diskusi kedepan
kelas. (Eksplorasi)
14. Masing-masing pasangan berbagi hasil diskusinya kepada pasangan
lain. (Elaborasi)
15. Pasangan lain menyimak penjelasan dari pasangan yang menyampaikan pendapatnya
kedepan kelas. (Elaborasi)
16. Guru meminta kelompok lain untuk memberi tanggapan kepada kelompok yang
menyampaikan penjelasannya. (Elaborasi)
17. Siswa lain memberikan tanggapan kepada kelompok yang menjelaskan. (Elaborasi)
18. Guru menyajikan materi tentang menghayati Ibadah yang sejati menggunakan
media video. (Eksplorasi)
19. Guru menjelaskan materi tentang pentingnya menghayati makna Ibadah
yang sejati. (Eksplorasi)
20. Siswa mendengarkan dan memperhatikan materi tentang Menghayati
Ibadah yang Sejati oleh guru menggunakan media video. (Eksplorasi)
21. Guru memberikan penguatan atau umpan balik kepada siswa.
(Konfirmasi)
22. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang belum
diketahui. (Eksplorasi)
23. Siswa bersama guru menyampaikan hasil diskusi yang telah
dilaksanakan bersama.
24. Guru dan siswa melakukan refleksi
25. Guru memberikan soal evaluasi
26. Guru memberikan pemantapan kepada siswa
27. Siswa berdoa dengan tenang
3.2.3.3. Observasi
Seperti pada siklus
pertama dan kedua, selama penelitian berlangsung peneliti berkolaborasi dengan
guru kelas melakukan observasi terhadap siswa dalam kegiatan pembelajaran.
a. Melalui
lembar observasi keterampilan guru, peneliti mengamati keterampilan guru dalam
pembelajaran. Aspek yang dinilai adalah bagaimana guru dalam menyampaikan
pelajaran dan perilaku guru selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
b. Melalui
lembar observasi aktivitas siswa, peneliti mengamati tingkah laku siswa selama
kegiatan pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil
pekerjaan tugas siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan
pembelajaran.
c. Melalui
lembar catatan lapangan, peneliti menuliskan suasana kelas pada saat pembelajaran.
3.2.3.4. Refleksi
a. Mengkaji
pelaksanaan pembelajaran dan efek tindakan pada siklus 3.
b. Mengevaluasi
secara umum proses dan hasil pembelajaran siklus 3.
c. Menemukan
permasalahan yang muncul pada siklus 3. Permasalahan yang masih muncul yaitu
rendahnya minat bertanya anak pada saat berdiskusi.
d. Merencanakan
perbaikan pembelajaran untuk mempertahankan mutu secara berkelanjutan dan
membuat laporan penelitian.
3.3.
SUBJEK PENELITIAN
Penelitian Tindakan
Kelas dilaksanakan di SDN 4 Kasongan Lama dengan subyek penelitian guru dan
siswa kelas VI A sebanyak 15 siswa yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 6 siswa
perempuan.
3.4.
LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini
dilaksanakan di ruang kelas di SDN 4 Kasongan lama bertempat di jalan jambu
kereng Humbang Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten
Katingan.
3.5.
VARIABEL PENELITIAN
Variabel yang diteliti
meliputi:
1.
Keterampilan guru dalam melaksanakan
pembelajaran PAK dengan menggunakan model TPS berbantuan media Video.
2.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran PAK dengan
menggunakan model pembelajaran TPS berbantuan media Video.
3.
Pemahaman siswa kelas VI A SDN 4
Kasongan Lama dalam pembelajaran PAK dengan menggunakan model pembelajaran TPS
berbantuan media Video.
3.6.
DATA DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA
3.6.1.
Sumber Data.
3.6.1.1.
Siswa
Sumber data siswa kelas
VI SDN 4 Kasongan Lama diperoleh dari hasil observasi yang sistematik selama
pelaksanaan siklus pertama sampai siklus ketiga dengan data aktivitas siswa dan
hasil belajar (evaluasi) dalam pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan
media video
3.6.1.2.
Guru
Sumber data guru berasal dari lembar observasi
keterampilan guru PAK dalam pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan media
video
3.6.1.3.
Data Dokumen
Data
dokumen dari penelitian ini diambil dari hasil belajar siswa dalam pembelajaran
PAK sebelumnya serta foto dan video pelaksanaan pembelajaran PAK melalui model TPS
berbantuan media video.
3.6.1.4. Catatan Lapangan
Sumber
data yang berupa catatan lapangan berasal dari catatan selama proses
pembelajaran berupa suasana dalam pembelajaran PAK.
3.6.2.
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode tes dan
non-tes.
3.6.2.1. Teknik Tes
Menurut
Poerwanti (2008: 4-3) Tes adalah himpunan pertanyaan yang harus dijawab,
pertanyaan-pertanyaan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang
harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek
tertentu dari peserta tes. Tes dalam penelitian ini, tes digunakan untuk
mengukur atau memberi angka terhadap proses pembelajaran ataupun pekerjaan
siswa sebagai hasil belajar yang merupakan alat ukur tingkat pemahaman siswa
terhadap materi PAK.
3.6.2.2.
Teknik Non-Tes
Metode non-tes dalam
penelitian ini diantaranya menggunakan:
3.6.2.2.1. Metode Observasi
Observasi adalah suatu
proses observasi dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional
mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun situasi
buatan untuk mencapai tujuan tertentu. Observasi tidak hanya digunakan dalam
kegiatan evaluasi, tetapi juga dalam bidang penelitian. (Zainal, 2013: 153)
Observasi dalam penelitian
ini berisi catatan yang berisikan bagaimana keterampilan guru, aktivitas siswa
dalam pembelajaran PAK dengan model pembelajaran TPS berbantuan media video.
3.6.2.2.2. Metode
Dokumentasi
Dokumentasi merupakan
salah satu teknik pengumpulan data dengan mendokumentasikan kegiatan belajar
mengajar baik melalui foto maupun video rekaman. Hal ini dimaksudkan untuk
merekam segala aktivitas pembelajaran yang terjadi agar tidak lupa.
3.6.2.2.3. Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah
catatan yang berisi hal-hal yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi.
Berfungsi untuk memperkuat data yang diperoleh selama pembelajaran (Arikunto,
2008: 78). Catatan lapangan digunakan peneliti untuk mencatat hal-hal yang
terjadi selama pembelajaran .
3.6.3.
Jenis Data.
Berdasarkan apa yang
diteliti, maka jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang didapat dari cara observasi
pelaksanaan tindakan.
3.6.4.
Cara mengumpulkan Data.
Data tentang Proses
Belajar Mengajar pada saat dilaksanakan siklus pertama dan kedua, diambil dengan menggunakan lembar
observasi.
3.6.5.
Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data.
Adapun teknik pengumpulan data dilakukan secara langsung dalam
kelas yakni mengisi lembaran observasi
berdasarkan pengamatan.
3.7.
INDIKATOR KEBERHASILAN / KINERJA
Model pembelajaran TPS berbantuan
media video dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep materi Ibadah
Yang sejati dalam pembelajaran PAK pada siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama dengan
indikator sebagai berikut:
a. Keterampilan
guru dalam pembelajaran PAK melalui model pembelajaran TPS berbantuan media
video meningkat dengan kategori sangat baik
b. Aktivitas
siswa dalam pembelajaran PAK melalui model pembelajaran TPS berbantuan media
video meningkat dengan kategori sangat baik.
c. Pemahaman
siswa dalam pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan video mengalami peningkatan
dengan indikator pencapaian kompetensi minimal 75%.
0 komentar:
Posting Komentar