Never Stop Learning

Never Stop Learning
Do Your Best and Let God do the Rest

Make a Difference with education, and be the best.

Make a Difference with education, and be the best.

Putting Children First. Preparing Children For Success In Life

Putting Children First. Preparing Children For Success In Life

How you can get top grades, to get a best job.

How you can get top grades, to get a best job.

Latest Posts

Kamis, 12 November 2020

Sahabat Guru PAK SD

 PENELITIAN TINDAKAN KELAS 

(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

 

 

JUDUL:

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) BERBANTUAN MEDIA VIDEO PEMBELAJARAN UNTUK

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATERI

“IBADAH YANG SEJATI”  PADA SISWA KELAS VI A

SDN 4 KASONGAN LAMA



OLEH:

YEPRIANTO, S.Pd.K

NIP. 19870227 201402 1 001

 

 

 

 

 

 

 

PEMERINTAH KABUPATEN KATINGAN
DINAS PENDIDIKAN
SDN 4 KASONGAN LAMA

JL. JAMBU KERENG HUMBANG
KASONGAN
2020

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.           Latar Belakang Masalah

Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu cita-cita Bangsa Indonesia. Menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, serta bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Merujuk kepada pendidikan Agama, Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, disebutkan bahwa: Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Pasal 2 ayat 1). Selanjutnya disebutkan bahwa Pendidikan Agama bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan,teknologi dan seni (Pasal 2 ayat 2).

Secara khusus untuk Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen, dijelaskan  hakikat PAK seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.

Muara dari semua proses pembelajaran dalam penyelenggaraan pendidikan adalah peningkatan kualitas hidup anak didik, yakni peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap (aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang baik dan tepat di sekolah. Dengan demikian mereka diharapkan dapat berperan dalam membangun tatanan sosial dan peradaban yang lebih baik. Jadi, arah penyelenggaraan pendidikan tidak sekadar meningkatkan kualitas diri, melainkan untuk kepentingan yang lebih luas, yaitu membangun kualitas kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara yang lebih baik. Dengan demikian terdapat dimensi peningkatan kualitas personal anak didik, dan di sisi lain terdapat dimensi peningkatan kualitas kehidupan sosial.

Dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 juga dinyatakan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Melalui pembelajaran itulah peserta didik diharapkan mencapai dan menuntaskan fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional maupun tujuan PAK itu sendiri. Dengan pembelajaran di sekolah, peserta didik diberikan dan diajarkan materi-materi dan konsep yang nantinya akan membekali peserta didik untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Dengan demikian, pendekatan pembelajaran PAK bersifat berpusat pada peserta didik, yang memanusiakan manusia, demokratis, menghargai peserta didik sebagai subyek dalam pembelajaran, menghargai keanekaragaman peserta didik, memberi tempat bagi peranan Roh Kudus. Dalam proses seperti ini, kebutuhan peserta didik merupakan kebutuhan utama yang harus terakomodasi dalam proses pembelajaran.

Namun dalam praktiknya Guru sering kali menerapkan proses pembelajaran yang konvensional yang cenderung menempatkan guru sebagai pusat pembelajaran (teacher centered) sehingga dampaknya siswa kurang mampu untuk memahami konsep yang dijelaskan oleh guru. Minat siswa kurang dalam mengikuti pembelajaran sehingga siswa pasif dalam pembelajaran. Metode yang digunakan guru saat mengajar adalah metode ceramah. Kemudian, proses belajar mengajar siswa juga mengacu pada penggunaan lembar kerja siswa dalam buku yang tidak disusun oleh guru kelas bersangkutan. Akibatnya pembelajaran berlangsung monoton, siswa membaca materi dalam buku, guru memberikan ceramah dari materi yang telah dibaca siswa, kemudian siswa diminta mengerjakan lembar kerja siswa dalam buku tersebut.

Persoalan yang juga sering dihadapi pada saat mengajar Pendidikan Agama Kristen selain antusiasme siswa yang relatif  rendah yakni cenderung menggampangkan mata pelajaran agama dan enggan membawa Alkitab. Peserta didik yang enggan untuk membawa Alkitab pada saat mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen beralasan bahwa Alkitab terlalu tebal dan berat untuk dibawa. Keengganan membawa Alkitab tentu juga berdampak dengan minat siswa dalam membaca Alkitab, siswa cenderung malas membaca Alkitab karena dianggap terlalu tebal untuk dibaca. Padahal konsep dan pemahaman utama terkait materi “Ibadah yang Sejati” ada dalam Alkitab sebagai landasan teologis seperti terdapat dalam Roma 12:1-2 dan Yakobus 1:26-27.

Konsep Ibadah yang sejati yang harusnya dipahami peserta didik adalah bahwa Ibadah adalah segala hal yang kita lakukan dengan penuh kesadaran kepada Tuhan, sesama manusia dan seluruh ciptaan Tuhan. Itu berarti, ibadah adalah seluruh aktivitas kehidupan kita. Ibadah juga tidak hanya terbatas pada aktivitas menyanyi, berdoa dan membaca firman Tuhan. Ibadah adalah menyangkut seluruh hidup kita untuk melakukan kehendak Tuhan setiap hari untuk itu indikator pencapaian kompetensi yang diharapkan atau yang hendak dicapai adalah peserta didik mampu menjelaskan arti ibadah yang sejati. menyebutkan dan mendaftarkan contoh-contoh ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Menuliskan dan menceritakan pengalaman pribadi dalam kaitan dengan ibadah yang berkenan kepada Allah. Menyatakan tekad untuk melayani sesama sebagai wujud melaksanakan ibadah yang sesungguhnya.

Dari penjelasan yang telah dikemukakan di atas bahwa faktor-faktor tersebut berdampak pada rendahnya pemahaman peserta didik terhadap konsep materi yang dijelaskan guru. Untuk memecahkan permasalahan pembelajaran di atas, guru menetapkan alternatif tindakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran terkait pemahaman peserta didik terhadap konsep materi Ibadah yang Sejati yang dapat mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan meningkatkan kreativitas guru. Maka peneliti menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS). Model pembelajaran TPS merupakan model pembelajaran yang menekankan aktivitas siswa, dengan menerapkan model pembelajaran TPS guru menekankan pemikiran individu siswa maupun berpikir secara kelompok. Sesuai masalah yang terjadi pada siswa kelas VI A SDN 4 KASONGAN LAMA, model TPS ini membuat siswa berpikir terlebih dahulu. Semua siswa berpikir dan menuangkan ide yang dimiliki secara individu. Jadi semua siswa memiliki jawaban sendiri sesuai dengan ide yang dimilikinya. Kemudian untuk menekankan keefektifan dalam berdiskusi siswa berpasangan dengan teman satu bangku. Ketika hanya berdua yang berkelompok maka diskusi akan lebih efektif. Pasangan akan mendiskusikan pemikiran yang dituliskan pada tahap sebelumnya. Selain itu model TPS juga melatih anak untuk mengemukakan hasil yang didiskusikan didepan pasangan lainnya. Serta dengan memanfaatkan fasilitas yang ada disekolah maka media video dipilih sebagai media pembelajaran yang dikembangkan. Alasan dari pemilihan media video untuk membantu pembelajaran adalah karena media video tepat digunakan untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan pembelajaran Ibadah yang sejati, serta media video lebih menarik perhatian atau minat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran.

Dari ulasan latar belakang tersebut, maka peneliti akan mengkaji melalui penelitian tindakan kelas dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Think, Pair, Share (TPS) Berbantuan Media Video Pembelajaran Untuk  Peningkatan Pemahaman Konsep Materi Ibadah Yang Sejati pada Siswa Kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama”.

 

1.2.           Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah

 

1.2.1.     Rumusan masalah

 

Berdasarkan latar belakang yang telah dikaji oleh peneliti dapat diketahui bahwa terdapat beberapa akar penyebab munculnya permasalahan terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Adapun rumusan masalah umum peneliti adalah Bagaimanakah model pembelajaran TPS berbantuan video dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama terhadap Konsep materi “Ibadah yang sejati” dalam pembelajaran PAK? Rumusan masalah tersebut dirinci sebagai berikut:

1)            Apakah model pembelajaran TPS berbantuan media video dapat meningkatkan keterampilan guru kelas VI A SDN SDN 4 Kasongan Lama dalam pembelajaran PAK?

2)            Apakah model pembelajaran TPS berbantuan media video dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama dalam pembelajaran PAK?

3)            Apakah model Pembelajaran TPS berbantuan media video dapat meningkatkan pemahaman Siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama dalam pembelajaran PAK?

 

1.2.2.     Pemecahan Masalah

 

Berdasarkan rumusan masalah dalam pembelajaran PAK pada siswa kelas VI SDN 4 Kasongan Lama, terdapat beberapa faktor penyebab munculnya permasalahan, antara lain adalah keterampilan guru yang kurang maksimal serta rendahnya aktivitas siswa, yang menyebabkan rendahnya pemahaman siswa sehingga mempengaruhi kualitas pembelajaran PAK. Oleh karena itu, dilakukan perbaikan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran TPS serta berbantuan Media Video. Adapun modifikasi langkah-langkah model pembelajaran TPS berbantuan Media Video adalah sebagai berikut:

a.             Menyiapkan video yang sesuai dengan materi untuk siswa.

b.            Memutarkan video yang berkaitan dengan materi untuk merangsang ide siswa.

c.             Memberikan pertanyaan atau masalah yang sesuai untuk merangsang ide siswa.(Think)

d.            Meminta siswa untuk menuliskan jawaban dari permasalahan yang diajukan guru sesuai dengan ide yang dipikirkan. (Think)

e.             Memasangkan siswa untuk berdiskusi dari hasil jawaban yang dituliskan. (Pair).

f.             Membimbing diskusi kelompok kecil.

g.            Meminta pasangan untuk menyampaikan hasil diskusi di depan kelas. (Share)

h.            Meneruskan pemutaran video.

i.              Menjelaskan dan mengkonfirmasi tentang materi yang berkaitan.

 

1.3.           Tujuan Penelitian

 

Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan pemahaman peserta didik dalam Pembelajaran PAK melalui model pembelajaran TPS berbantuan media video pada siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama. Tujuan dari penelitian yang telah dilaksanakan dirinci sebagai berikut:

1.                 Meningkatkan keterampilan guru Pendidikan Agama Kristen dalam pembelajaran PAK dengan model pembelajaran TPS berbantuan media video.

2.                 Meningkatkan aktivitas siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama dalam pembelajaran PAK dengan model pembelajaran TPS berbantuan media video.

3.                 Meningkatkan Pemahaman siswa kelas VI SDN 4 Kasongan Lama terhadap materi Ibadah yang Sejati dalam pembelajaran PAK dengan model pembelajaran TPS berbantuan media video.

 

1.4.           Manfaat Penelitian

1.4.1.     Secara Teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai landasan teori untuk kegiatan-kegiatan penelitian selanjutnya dalam mengatasi kesulitan belajar siswa pada materi “Ibadah yang Sejati” melalui model TPS berbantuan media video. Selain itu penelitian ini juga dapat memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam bidang pembelajaran PAK pada materi “Ibadah yang Sejati”

 

 

 

1.4.2.      Secara Praktis

a.      Manfaat bagi Guru

1)      Menambah pengetahuan guru tentang model pembelajaran TPS dan media video.

2)      Memberikan referensi bagi para guru tentang model dan media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.

3)      Meningkatkan keterampilan mengajar guru.

4)      Mendorong guru untuk menerapkan pembelajaran yang bervariasi dan inovatif.

5)      Menanamkan kreativitas guru dalam usaha pembenahan proses pembelajaran sehingga guru dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

 

b.      Manfaat bagi Siswa

1)      Memotivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran agar siswa lebih aktif.

2)      Merangsang keterlibatan siswa secara aktif serta rasa ingin tau dalam pembelajaran.

3)      Melatih siswa bekerjasama, melatih kemandirian siswa dalam kelompok, serta mengembangkan kemampuan komunikasi siswa.

4)      Video dapat membantu melatih berpikir kritis serta membangkitkan semangat siswa dalam pembelajaran PAK.

 

c.       Manfaat bagi Sekolah

1)      Meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah yang berdampak pada meningkatnya kepercayaan dari pemerintah dan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah tersebut.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1.           Kajian Teori

2.1.1.     Pengertian Pemahaman Konsep

2.1.1.1.          Pemahaman

Pengertian pemahaman  yang dikemukakan oleh para ahli seperti yang dikemukakan oleh Winkel dan Mukhtar (Sudaryono, 2012: 44) mengemukakan bahwa:

Pemahaman yaitu kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui atau diingat; mencakup kemampuan untuk menangkap makna dari arti dari bahan yang dipelajari, yang dinyatakan dengan menguraikan isi pokok dari suatu bacaan, atau mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk yang lain.

Dalam hal ini, siswa dituntut untuk memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan, dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan untuk menghubungkan dengan hal-hal yang lain. Kemampuan ini dapat dijabarkan ke dalam tiga bentuk, yaitu : menerjemahkan (translation x), menginterprestasi (interpretation), dan mengekstrapolasi (extrapolation).

Sementara Benjamin S. Bloom (Anas Sudijono, 2009: 50) mengatakan bahwa:

Pemahaman (Comprehension) adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengerti tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-kata sendiri.

 

Menurut Taksonomi Bloom (Daryanto, 2008: 106) mengemukakan :

Pemahaman (comprehension) kemampuan ini umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar mengajar. Siswa dituntut untuk memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkannya dengan hal-hal lain. Bentuk soal yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian.

 

Menurut Daryanto (2008: 106) kemampuan pemahaman dapat dijabarkan menjadi tiga, yaitu:

a)    Menerjemahkan (translation)

Pengertian menerjemahkan di sini bukan saja pengalihan (translation) arti dari bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain. Dapat juga dari konsepsi abstrak menjadi suatu model, yaitu model simbolik untuk mempermudah orang mempelajarinya.

b)   Menginterpretasi (interpretation)

Kemampuan ini lebih luas daripada menerjemahkan, ini adalah kemampuan untuk mengenal dan memahami. Ide utama suatu komunikasi.

c)    Mengekstrapolasi (extrapolation)

Agak lain dari menerjemahkan dan menafsirkan, tetapi lebih tinggi sifatnya. Ia menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan pemahaman adalah  kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat, memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkannya dengan hal-hal lain. Dengan kata lain, memahami adalah mengerti tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-kata sendiri. Kemampuan  pemahaman dapat dijabarkan menjadi tiga, yaitu: menerjemahkan (translation), menginterpretasi (interpretation),mengekstrapolasi (extrapolation).

2.1.1.2.            Konsep

Pengertian konsep yang dikemukakan oleh S. Hamid Husen (Sapriya, 2009: 43) mengemukakan bahwa: “Konsep adalah pengabstraksian dari sejumlah benda yang memiliki karakteristik yang sama”. Selanjutnya More (Sapriya, 2009: 43) bahwa “Konsep itu adalah sesuatu yang tersimpan dalam benak atau pikiran manusia berupa sebuah ide atau sebuah gagasan”. Konsep dapat dinyatakan dalam sejumlah bentuk konkrit atau abstrak, luas atau sempit, satu kata frase. Beberapa konsep yang bersifat konkrit misalnya : manusia, gunung, lautan, daratan, rumah, negara, dan sebagainya.

Menurut Bloom (Vestari, 2009: 16) “Pemahaman konsep adalah kemampuan menangkap pengertian-pengertian seperti mampu mengungkap suatu materi yang disajikan kedalam bentuk yang lebih dipahami, mampu memberikan interpretasi dan mampu mengaplikasikannya”.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, pemahaman konsep adalah kemampuan menangkap pengertian-pengertian seperti mampu memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan, memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci dengan menggunakan kata-kata sendiri, mampu menyatakan ulang suatu konsep, mampu mengklasifikasikan suatu objek dan mampu mengungkapkan suatu materi yang disajikan kedalam bentuk yang lebih dipahami.

Adapun indikator-indikator yang menunjukkan pemahaman konsep menurut Asep Jihad dan Abdul Haris (2008: 149 dalam Arvianto, Ilham Haris, dkk, (2011: 172) meliputi hal-hal berikut:

1.    Menyatakan ulang sebuah konsep

2.    Mengklasifikasikan obyek-obyek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya)

3.    Memberi contoh dan non contoh dari konsep

4.    Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi

5.    Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep

6.    Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu

7.    Mengaplikasikan konsep dalam pemecahan masalah.

 

2.1.2.      Materi “Ibadah yang Sejati”

2.1.2.1.            Pengantar Materi  

Beberapa hal tentang materi pembelajaran yang berkualitas (Depdiknas, 2004: 9) adalah sebagai berikut:

a.       Kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai siswa.

b.      Ada keseimbangan antara keluasan dan kedalaman materi dengan waktu yang tersedia.

c.       Dapat mengakomodasikan partisipasi aktif mahasiswa dalam belajar semaksimal mungkin.

d.      Dapat menarik manfaat yang optimal dari perkembangan dan kemajuan bidang ilmu, teknologi, dan seni.

e.       Materi pembelajaran memenuhi kategori filosofis, professional, psikopedagogis, dan praktis.

Seorang guru harus mengetahui materi pembelajaran dengan baik. Materi pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar. Materi pembelajaran harus disampaikan dengan menarik, agar siswa mengerti dan memahami materi dengan baik. Kualitas materi pembelajaran yang disampaikan di atas digunakan sebagai acuan guru untuk menentukan materi pembelajaran dalam penelitian ini.

Materi pelajaran pertama di kelas VI dalam penelitian ini hendak menekankan tentang pentingnya ibadah yang sejati. Bahan Alkitab yang menjadi dasar bagi guru untuk mengajarkan materi ini adalah Surat Roma 12:1-2 dan Surat Yakobus 1:26-27. Kedua bahan Alkitab ini diangkat karena memberikan pengertian yang jelas mengenai ibadah yang sejati disertai dengan contoh yang konkret. Topik ini penting diajarkan untuk meluruskan konsep tentang ibadah yang sesungguhnya kepada peserta didik. Pemahaman tentang ibadah sering dimengerti secara sempit, yaitu hanya sebatas pada upacara keagamaan seperti kebaktian rutin yang diadakan tiap hari Minggu di gereja, kebaktian keluarga yang diadakan di rumah, atau kebaktian yang diadakan di sekolah. Ibadah adalah segala hal yang kita lakukan dengan penuh kesadaran kepada Tuhan, sesama manusia dan seluruh ciptaan Tuhan. Itu berarti, ibadah adalah seluruh aktivitas kehidupan kita. Ibadah juga tidak hanya terbatas pada aktivitas menyanyi, berdoa dan membaca firman Tuhan. Ibadah adalah menyangkut seluruh hidup kita untuk melakukan kehendak Tuhan setiap hari.

2.1.2.2.            Penjelasan Bahan Alkitab

Roma 12:1-2

Surat Roma 12 ini berbicara tentang perilaku Kristen, khususnya dalam melayani Allah. Rasul Paulus membicarakan masalah praktis tentang bagaimana seharusnya perilaku pengikut-pengikut Kristus menjalani hidupnya. Kata kemurahan di ayat 1 dalam Bahasa Yunani berbentuk jamak dan dapat menunjuk kepada belas kasihan atau “rahmat Allah yang besar”. Dalam sejumlah bahasa “rahmat Allah yang besar” dapat diungkapkan dengan kalimat seperti Allah telah menunjukkan belas kasihan(-Nya) kepada kita atau Allah telah berbelas kasihan kepada kita. Terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) mengubah kata benda abstrak “kemurahan” menjadi suatu ungkapan yang mengandung kata kerja, yaitu Allah sangat baik kepada kita.

Selanjutnya yang dimaksud dengan saudara bukan berarti “saudara” berdasarkan pertalian kekeluargaan. Saudara di sini maksudnya adalah saudara seiman, atau saudara yang sama-sama percaya pada Yesus Kristus. Aku menasihatkan kamu dalam BIMK diterjemahkan dengan saya minta dengan sangat. Kalimat ini dapat diterjemahkan juga dengan saya sangat mendesak kalian atau saya mendorong kamu.

Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu: ada tiga hal yang Rasul Paulus minta, dua berbentuk positif, yaitu “mempersembahkan tubuhmu” dan “berubahlah oleh pembaharuan budimu” (ayat 2), dan satu berbentuk negative “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” (ayat 2). Tubuhmu dalam BIMK diterjemahkan dirimu, yang lebih cocok dengan Bahasa Indonesia. Rasul Paulus menggunakan kata “tubuh” dengan arti diri seseorang.Kalimat “mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (ayat 1) hendak menyatakan bahwa mempersembahkan kurban adalah bagian penting dalam agama Yahudi dan dalam agamaagama lainnya pada zaman Paulus. Paulus mengatakan bahwa orang beriman tidak perlu lagi mempersembahkan binatang mati atau persembahan lainnya untuk menyenangkan Allah.

Mereka lebih baik mempersembahkan seluruh dirinya dalam pelayanan yang hidup kepada Allah.Kata Yunani untuk persembahan diterjemahkan BIMK secara hurufiah, kurban. Persembahan atau kurban ini dilukiskan dengan tiga cara, yaitu hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. BIMK mengartikan istilah “yang kudus” dengan yang khusus untuk Allah. Sedangkan “yang berkenan kepada Allah” dapat juga diterjemahkan yang menyenangkan Allah.

Itu adalah ibadahmu yang sejati. Sejati di sini berarti “yang sesuai dan pantas”. Sebab itu anak kalimat terakhir ini dapat diterjemahkan: Itulah caranya kalian harus beribadah, atau begitulah cara yang patut untuk menyembah Allah.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini maksudnya: janganlah ikuti kebiasaan-kebiasaan di dunia ini, atau janganlah terus lakukan apa yang dilakukan orang-orang di dunia, atau dengan kiasan, janganlah jadikan dirimu serupa berarti “mengikuti adat istiadat” atau lebih khusus lagi, “cara-cara bertindak yang biasa dilakukan oleh orang-orang duniawi”. Kata dunia menyatakan bahwa bagi Paulus, “dunia” berarti masa kini, di mana manusia lebih banyak mengandalkan hal-hal yang bertentangan dengan Allah.

Tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu: secara hurufiah anak kalimat ini berbunyi: “Tetapi [kalian] diubahlah oleh pembaharuan akal budimu”. Kata-kata ini dapat diterjemahkan “biarlah Allah yang mengubah hati kamu atau biarkanlah Allah memberi kalian pribadi yang baru.” Sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: perkataan ini dapat diterjemahkan supaya kamu tahu apa yang Allah mau atau inginkan. Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna: kata-kata ini menunjukkan apa yang Allah mau. Sempurna dapat diterjemahkan sebagai: yang semestinya atau yang tidak ada kekurangannya atau tanpa cacat sama sekali.

Yakobus 1:26-27

Surat Yakobus ditujukan kepada semua umat Allah yang tersebar di seluruh dunia. Surat ini berisi sejumlah petunjuk dan nasihat praktis untuk orang Kristen mengenai kelakuan dan perbuatan Kristen. Surat ini menekankan bahwa dalam menjalankan agama Kristen, iman harus disertai perbuatan.

Yakobus 1:26 hendak menasihati bahwa kalau ada seseorang yang merasa dirinya seorang yang patuh beragama, tetapi ia tidak menjaga lidahnya, maka ia menipu dirinya sendiri. Menurut Yakobus, ibadahnya itu tidak ada gunanya. Sedangkan Yakobus 1:27 hendak menasihati bahwa ibadah yang murni atau sejati menurut pandangan Allah adalah menolong anak-anak yatim piatu dan janda-janda yang menderita, juga menjaga diri sendiri supaya tidak dirusakkan oleh dunia. Jadi bagi Yakobus, ibadah yang sejati adalah menjaga kesalehan hidup.

2.1.2.3.            Konsep Materi “Ibadah yang Sejati”

Ibadah yang sejati bukanlah sekadar kita beribadah tiap minggu dengan rajin. Tidak juga terbatas pada menyanyi, berdoa, dan membaca firman Tuhan saja. Memang hal itu tidak salah, tetapi yang terutama adalah bagaimana kita dapat menunjukkan bahwa Yesus hidup dalam kehidupan kita melalui tingkah laku dan gaya hidup kita. Yang terutama adalah melakukan perintah-perintah Tuhan. Itulah yang dimaksud oleh Rasul Paulus ketika menjelaskan pengertian ibadah dalam Roma 12:1-2. Bagi Rasul Paulus, mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah adalah ibadah yang sejati.

Mempersembahkan tubuh tidaklah diartikan secara hurufiah dengan mengurbankan tubuh. Mempersembahkan tubuh berarti memberikan atau mengabdikan semua pikiran kita, perkataan, dan perbuatan atau tindakan kita sesuai dengan keinginan Tuhan. Semua pikiran kita, perkataan, dan perbuatan dapat terjadi dan terungkap melalui bagian-bagian tubuh kita. Kita berpikir menggunakan bagian tubuh yang disebut otak. Kita berkata-kata menggunakan bagian tubuh yang disebut mulut. Kita berbuat sesuatu atau bertindak menggunakan bagian tubuh, misalnya: tangan atau kaki. Oleh karena itu, apa pun yang kita pikirkan, semua kata yang kita keluarkan, setiap tindakan yang kita lakukan; semuanya harus benar, sesuai ajaran Tuhan dan berkenan kepada-Nya. Itulah yang dimaksud dengan ibadah yang sejati. Memberikan diri kita sepenuhnya kepada Allah.

Oleh karena itu, segala tindakan yang kelihatan oleh mata manusia seperti: berdoa, berbakti, membaca Alkitab, menolong orang lain, berbuat baik, jika tidak dilakukan dengan tulus dan jujur di hadapan Tuhan, tidaklah dapat dikatakan sebagai ibadah yang benar. Itu hanya sandiwara atau pura-pura. Allah menyelidiki dan melihat ketulusan hati kita, bukan hanya tindakan yang kita lakukan.

 Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai tindakan nyata ibadah yang sejati, misalnya: kita menggunakan otak kita untuk merancang dan merencanakan hal-hal yang baik dan benar, mulut digunakan untuk mengatakan hal yang baik dan benar atau untuk memuji teman bukan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti, tangan kita gunakan untuk membantu orang tua, kaki digunakan untuk bergegas menolong sahabat bukan untuk menendang orang lain ketika marah, dan telinga untuk mendengarkan nasihat guru atau pelajaran di sekolah. Tindakan nyata lainnya yang dapat kita lakukan adalah melayani orang yang lemah, menolong orang miskin, membantu orang yang  kesusahan, menghibur teman yang sedih, bersahabat dengan semua orang, berkata jujur kepada semua orang, bersikap ramah dan sopan, serta tidak mementingkan diri sendiri.

Peserta didik yang memehami konsep ini akan mewujudnyatakan ibadah yang benar melalui tindakan sederhana yang dapat dimulai di rumah mereka sendiri, yaitu patuh dan taat kepada orang tua, menyayangi kakak dan adik, rajin belajar, rajin membuat pekerjaan rumah, rajin ke sekolah, serta tidak terlambat ke sekolah atau Sekolah Minggu.

Dengan demikian ibadah yang benar tidak hanya dilakukan di gereja atau tempat ibadah namun dilakukan di semua tempat, di mana saja: di rumah, di sekolah, di jalan, di tempat bermain atau juga rekreasi, di mal, dan di semua lokasi. Ibadah yang benar tidak hanya dilakukan pada hari Minggu namun pada setiap hari, setiap saat; dan ditujukan kepada semua orang. Itu berarti kita harus menjaga setiap sikap, perkataan dan tindakan kita. Kita tidak boleh menyakiti hati siapapun, kita harus berlaku adil, jujur, benar, dan selalu mau memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan, khususnya kepada orang-orang miskin dan menderita.

Kalau begitu, apa dampak melakukan ibadah yang sejati? Dampaknya, di antaranya adalah adanya suatu jaminan perlindungan, ketenteraman, kedamaian dan berkat yang mengalir sampai pada anak cucu, seperti yang tertulis dalam Mazmur 89:21-30. Janji Tuhan ini sungguh luar biasa. Oleh karena itu kita harus mampu mempraktikkan sikap hidup, tabiat, perbuatan, karakter atau pola pikir yang sesuai dengan keinginan Tuhan. Dalam mewujudnyatakan semuanya itu, ingat nasihat Kolose 3:23 “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. 

 

2.1.3.      Hakikat PAK

Hakikat PAK seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.

 

2.1.4.      Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)

Menurut Udin (2007:1.18) pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Oleh karena pembelajaran merupakan upaya sistematis dan sistemik untuk menginisasi, memfasilitasi, dan meningkatkan proses belajar maka kegiatan pembelajaran berkaitan erat dengan jenis hakikat, dan jenis belajar serta hasil belajar tersebut. Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran.

Proses belajar terjadi juga dalam konteks interaksi sosial-kultural dalam lingkungan masyarakat. Dalam Hamdani (2011: 23) menurut aliran behavioristik pembelajaran merupakan usaha guru untuk membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menggunakan lingkungan atau stimulus.

Berbicara tentang pembelajaran PAK, dijelaskan bahwa Pendidikan Agama Kristen  telah ada sejak pembentukan umat Allah yang dimulai dengan panggilan terhadap Abraham. Hal ini berlanjut dalam lingkungan dua belas suku Israel sampai dengan zaman Perjanjian Baru. Sinagoge atau rumah ibadah orang Yahudi bukan hanya menjadi tempat ibadah melainkan menjadi pusat kegiatan pendidikan bagi anak-anak dan keluarga orang Yahudi. Beberapa nats berikut ini dipilih untuk mendukungnya, yaitu:

1.      Kitab Ulangan 6:4 9

Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengajarkan tentang kasih Allah kepada anak-anak dan kaum muda. Perintah ini kemudian menjadi kewajiban normatif bagi umat Kristen dan lembaga gereja untuk mengajarkan kasih Allah. Dalam kaitannya dengan PAK, bagian Alkitab ini telah menjadi dasar dalam menyusun dan mengembangkan Kurikulum dan Pembelajaran PAK.

2.      Amsal 22:6

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

3.      Injil Matius 28:19 20

Yesus Kristus memberikan amanat kepada tiap orang percaya untuk pergi ke seluruh penjuru dunia dan mengajarkan tentang kasih Allah. Perintah ini telah menjadi dasar bagi tiap orang percaya untuk turut bertanggung jawab terhadap PAK. Sejarah perjalanan agama Kristen turut dipengaruhi oleh peran PAK. Lembaga gereja, lembaga keluarga dan sekolah secara bersama-sama bertanggung jawab dalam tugas mengajar dan mendidik anak-anak, remaja, dan kaum muda untuk mengenal Allah Pencipta, Penyelamat, Pembaru, dan mewujudkan ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, Pembelajaran PAK adalah upaya sistematis dan sistemik untuk menginisiasi, memfasilitasi, dan meningkatkan proses belajar PAK dengan maksud bahwa pembelajaran PAK adalah upaya menyampaikan Injil atau Kabar Baik, yang disajikan dalam dua aspek, yaitu aspek Allah Tritunggal dan Karya-Nya, dan aspek Nilai- ilai Kristiani. Secara holistik, pengembangan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar PAK pada Pendidikan Dasar dan Menengah mengacu pada dogma tentang Allah dan karya-Nya. Pemahaman terhadap Allah dan karya-Nya harus tampak dalam nilai-nilai Kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian peserta didik. Inilah dua aspek yang ada dalam seluruh materi pembelajaran PAK dari SD sampai SMA/SMK.

Dapat dikatakan bahwa Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen secara umum bertujuan untuk memperkenalkan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus dan karya-karyaNya serta menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggungjawab di tengah masyarakat. Dan secara khusus bertujuan menanamkan nilai–nilai kristiani dalam kehidupan pribadi dan sosial sehingga siswa mampu menjadikan nilai kristiani sebagai acuan.

Sehingga Pendidikan Agama Kristen yang dilaksanakan di sekolah mengisyaratkan agar terjadinya transformasi dan internalisasi nilai-nilai Kristiani bagi para peserta didik Transformasi dan internalisasi nilai-nilai Kristiani bagi para peserta didik juga dapat difasilitasi oleh para pendidik Pendidikan Agama Kristen. Dengan kata lain Pendidikan Agama Kristen merupakan pendidikan nilai, sehingga diharapkan melaluinya terjadi perubahan dan pembaruan, baik tentang pemahaman maupun sikap dan perilaku.

 Melalui penyajian kurikulum maka Pendidikan Agama Kristen diharapkan siswa mampu mengalami suatu proses transformasi nilai-nilai kehidupan berdasarkan iman kristiani yang dipelajari dalam Pendidikan Agama Kristen.

Proses Pembelajaran PAK adalah proses pembelajaran yang mengupayakan peserta didik mengalami pembelajaran melalui aktivitas-aktivitas kreatif yang difasilitasi oleh Guru. Penjabaran kompetensi dalam pembelajaran PAK dirancang sedemikian rupa sehingga proses dan hasil pembelajaran PAK memiliki bentuk-bentuk karya, unjuk kerja dan perilaku atau sikap yang merupakan bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dapat diukur melalui penilaian sesuai kriteria pencapaian.

2.1.5.      Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar dan berfungsi untuk memperjelas makna pesan yang disampaikan, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih baik dan sempurna. Media Pembelajaran adalah sarana untuk meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar. (Cecep dan Bambang, 2011:8). Sejalan dengan pendapat Munadi (2013: 7) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.

Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah media video, karena media video dapat menampilkan baik secara audio maupun visual terkait konsep materi Ibadah yang sejati, sehingga anak mampu melihat pengalaman nyata dan jelas tentang Ibadah yang sejati.

2.1.5.1.            Pengertian Media Pembelajaran Video

Menurut Daryanto (2013: 88) media video adalah segala sesuatu yang memungkinkan sinyal audio dapat dikombinasikan dengan gambar bergerak secara sekuensial. Program video dapat dimanfaatkan dalam program pembelajaran, karena dapat memberikan pengalaman yang tidak terduga kepada siswa, selain itu juga video dapat dikombinasikan dengan animasi dan pengaturan kecepatan untuk mendemontrasikan perubahan dari waktu ke waktu. Kemampuan video dalam memvisualisasikan materi terutama efektif untuk membantu menyampaikan materi yang bersifat dinamis. Penelitian yang dilakukan oleh black,dkk (2014) membuktikan bahwa media video dapat meningkatkan kinerja siswa. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Mukminin membuktikan bahwa media audio visual (video) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar service bawah bola volli. Jadi media video sangat mendukung dan efektif digunakan dalam penelitian ini.

Menurut Yudhi (2013: 127) media video memiliki banyak kelebihan, diantaranya adalah :

1.      Mengatasi keterbatasan jarak dan waktu.

2.      Video dapat diulangi bila perlu untuk menambah kejelasan.

3.      Pesan yang disampaikannya cepat dan mudah diingat.

4.      Mengembangkan pikiran dan pendapat para siswa.

5.      Mengembangkan imajinasi peserta didik

6.      Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan gambaran yang lebih realistic.

7.      Sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang.

8.      Sangat baik menjelaskan suatu proses dan keterampilan.

9.      Semua peserta didik dapat belajar dari video.

10.  Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.

11.  Dengan video penampilan siswa dapat segera dilihat kembali untuk dievaluasi.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa media video merupakan media kombinasi antara audio dan gambar bergerak. Jadi media video sangat tepat digunakan dalam Pembelajaran PAK, karena dalam menjelaskan Konsep Materi Ibadah Yang sejati denagn menampilkan gambar bergerak berkombinasi dengan audio untuk menjelaskan. Media video juga memiliki banyak kelebihan dan kemampuan untuk meningkatkan kinerja siswa atau aktivitas siswa dalam pembelajaran. Dengan demikian media video dapat menarik perhatian siswa dan menumbuhkan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran, sehingga siswa akan lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran.

2.1.5.2.            Langkah-Langkah Pemanfaatan Video

Pemanfaatan video dalam proses pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal berikut (Munadi, 2013: 127):

a.       Program Video harus dipilih agar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

b.      Guru harus mengenal program video untuk mengetahui manfaatnya bagi pelajaran.

c.       Sesudah program video dipertunjukkan, perlu diadakan diskusi.

d.      Adakalanya program video tertentu perlu diputar dua kali atau lebih untuk memperhatikan aspek-aspek tertentu.

e.       Agar siswa tidak memandang program video sebagai media hiburan belaka, sebelumnya perlu ditugaskan untuk memperhatikan bagian-bagian tertentu.

f.       Sesudah itu dapat dites berapa banyaklah yang mereka tangkap dari program video itu.

Langkah-langkah pemanfaatan media video di atas digunakan peneliti untuk menerapkan media video dalam pembelajaran PAK dengan materi tentang Ibadah yang sejati menggunakan model pembelajaran TPS berbantuan media video.

 

2.1.6.      Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Suprijono (2013: 54) pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Model pembelajaran kooperatif membuka peluang bagi upaya untuk mencapai tujuan meningkatkan keterampilan sosial siswa. Berikut merupakan lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif sebagaimana dikemukakan Roger dan Johnson (1992) dalam Suprijono (2013: 58).

Lima unsur pembelajaran kooperatif yaitu: (1) Saling ketergantungan positif. Setiap anggota dalam kelompok saling bekerjasama untuk paham terhadap bahan yang menjadi tugas mereka; (2) Pembelajaran kooperatif adalah tanggung jawab individual, artinya setelah mengikuti kelompok belajar bersama, anggota kelompok harus dapat menyelesaikan tugas yang sama; (3) Pembelajaran kooperatif adalah ketergantungan positif; (4) Pembelajaran kooperatif adalah keterampilan sosial dimana menuntut siswa untuk saling mengenal, mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius, saling menerima dan mendukung, dan mampu menyelesaikan konflik bersama; (5) Pembelajaran kooperatif adalah pemprosesan kelompok, siswa dituntut untuk memberikan kontribusi kegiatan di dalam kelompok.

Kelima unsur di atas, jika dilaksanakan dengan baik, maka akan menghasilkan hasil belajar yang maksimal. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif melibatkan siswa secara aktif untuk bekerjasama dalam kelompok.

Penerapan model pembelajaran kooperatif lebih diarahkan oleh guru namun bukan berarti pembelajaran kooperatif hanya berpusat pada guru. Pada pembelajaran kooperatif guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan dan informasi yang dirancang. Hal itu untuk membantu siswa menyelesaikan kesulitan dan masalah dalam pembelajaran. Penerapan model pembelajaran kooperatif yang baik harus memiliki ciri-ciri dan memenuhi lima unsur yang telah dijelaskan sebelumnya. Jadi, model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengaktifkan siswa sepanjang proses pembelajaran.

 

2.1.7.      Model Pembelajaran TPS (Think Pair Share)

2.1.7.1.            Pengertian Model Pembelajaran TPS

Menurut Huda (2013: 206) TPS merupakan strategi pembelajaran yang dikemukakan pertama kali oleh Profesor Frank Lyman di University of Maryland pada 1981 dan diadopsi oleh para penulis di bidang pendidikan pembelajaran kooperatif pada tahun-tahun selanjutnya. Strategi ini memperkenalkan gagasan tentang waktu, tunggu atau berpikir‟ (wait or think time) pada elemen interaksi pembelajaran kooperatif yang saat ini menjadi salah satu faktor ampuh dalam meningkatkan respons siswa terhadap pertanyaan.

Menurut Huda (2013: 207) langkah-langkah model pembelajaran TPS adalah sebagai berikut:

1.      Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 anggota/siswa.

2.      Guru memberikan tugas pada setiap kelompok.

3.      Masing-masing anggota memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendirisendiri.

4.      Kelompok membentuk anggotanya secara berpasangan. Setiap pasangan mendiskusikan hasil pengerjaan individunya.

5.      Kedua pasangan lalu bertemu kembali dalam kelompok untuk menshare hasil diskusinya.

Menurut Shoimin (2014: 208) TPS adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berpikir dan merespons serta saling membantu. Pembelajaran model TPS ini relative lebih sederhana karena tidak menyita waktu yang lama untuk mengatur tempat duduk ataupun mengelompokkan siswa. Pembelajaran ini melatih siswa untuuk berani berpendapat dan menghargai pendapat teman.

Model pembelajaran TPS merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif menurut Suprijono (2013: 91) pembelajaran ini diawali dengan guru memberi pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberikan kesempatan mereka untuk berpikir. Tahap selanjutnya guru meminta mereka untuk saling berpasang-pasangan. Dan hasil diskusi dari setiap pasangan kemudian dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas.

Menurut Shoimin (2014: 211) langkah-langkah pembelajaran TPS yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.      Langkah 1: Berpikir (Thinking)

Guru mengajukan pertanyaan atau masalah yang terikait dengan pelajaran, pertanyaan yang mengajak berpikir keseluruh kelas berupa pertanyaan terbuka yang memungkinkan dijawab dengan berbagai macam jawaban.

2.      Langkah 2: Berpasangan (Pairing)

Tahap ini siswa diminta berpikir individu. Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan pertanyaan atau masalah yang diberikan guru. Lama waktu yang disediakan sesuai pemahaman guru terhadap siswanya, sifat pertanyaan dan jadwal pembelajaran. Dan guru meminta siswa untuk menulis jawaban.

3.      Langkah 3: Berbagi (Sharing)

Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan atau perwakilan siswa untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Seluruh siswa akan memperoleh keuntungan tentang konsep yang dinyatakan tentang apa yang dijelaskan oleh masing-masing pasangan.

Model Pembelajaran TPS merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif untuk digunakan guru di dalam pembelajaran karena model pembelajaran TPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dibuktikan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Indriani (2014) menunjukkan bahwa model pembelajaran TPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan paparan, membuktikan bahwa model TPS tepat digunakan sebagai model yang efektif dalam pembelajaran sehari-hari. Adapun langkah-langkah pembelajaran TPS yang digunakan sebagai acuan tindakan penelitian ini yaitu langkah-langkah yang dicetuskan oleh Shoimin.

 

2.1.7.2.            Kelebihan Model Pembelajaran TPS

Menurut Shoimin (2014: 211) kelebihan model pembelajaran TPS adalah sebagai berikut:

1.      Dapat diterapkan di berbagai jenjang pendidikan dan setiap kesempatan.

2.      Memiliki waktu berpikir untuk meningkatkan kualitas respon siswa.

3.      Siswa menjadi lebih aktif dalam berpikir mengenai konsep dalam mata pelajaran.

4.      Siswa lebih memahami tentang konsep topik pelajaran selama diskusi.

5.      Siswa dapat saling berbagi satu sama lain.

6.      Masing-masing siswa mempunyai kesempatan untuk berbagi atau menyampaikan idenya.

2.1.7.3.            Kekurangan Model Pembelajaran TPS

Menurut Shoimin (2014: 212) kekurangan model pembelajaran TPS adalah sebagai berikut:

1.      Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor.

2.      Lebih sedikit ide yang muncul.

3.      Jika ada perselisihan, tidak ada penengah

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, solusi yang digunakan adalah keterampilan guru. Guru harus secara optimal memberikan rangsangan agar ide yang muncul lebih banyak. Serta guru harus secara maksimal membimbing kelompok kecil agar guru bisa mengatur diskusi kelompok serta menjadi penengah ketika ada perselisihan dari setiap pasangan.

2.1.8.      Penerapan Pembelajaran PAK melalui Model TPS berbantuan MediaVideo

Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran TPS berbantuan Video akan menumbuhkan minat siswa dalam pembelajaran. Media video tentang Ibadah yang sejati akan ditayangkan, maka perhatian siswa akan terfokus pada video yang ditayangkan. Kemudian guru memberi pertanyaan pembuka untuk merangsang rasa ingin tahu siswa, dan masing-masing siswa harus berpikir sendiri untuk mengembangkan ide yang ditemukan. Kemudian mereka berpasangan untuk saling berbagi pendapat. Setelah itu mereka mengemukakan hasil yang mereka dapatkan.

Adapun modifikasi langkah-langkah pembelajaran melalui Model pembelajaran TPS menurut Aris Shoimin dan berbantuan media video menurut Yudhi Munadi dalam Pembelajaran adalah sebagai berikut:

1.      Menyiapkan video yang sesuai dengan materi untuk siswa.

2.      Memutarkan video yang berkaitan dengan materi untuk merangsang ide siswa.

3.      Memberikan pertanyaan atau masalah yang sesuai untuk merangsang ide siswa.

4.      Meminta siswa untuk menuliskan jawaban dari permasalahan yang diajukan guru sesuai dengan ide yang dipikirkan.

5.      Memasangkan siswa untuk berdiskusi dari hasil jawaban yang dituliskan.

6.      Membimbing diskusi kelompok kecil.

7.      Meminta pasangan untuk menyampaikan hasil diskusi didepan kelas.

8.      Meneruskan pemutaran video.

9.      Menjelaskan dan mengkonfirmasi tentang materi yang berkaitan.

 

2.2.            Kajian Empiris

Penelitian yang dilakukan oleh Eni Muntarof pada tahun 2013 yang berjudul “Penerapan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share Dalam Meningkatkan Pembelajaran Matematika Di Kelas IV SD” menunjukkan bahwa 44 hasil belajar siswa pada siklus I memperoleh hasil ketuntasan sebesar 80% kemudian pada siklus II dan III memperoleh hasil ketuntasan sebesar 90%. Aktivitas siswa pada siklus I memperoleh skor 61,67%, siklus II 74,33%, dan siklus III 81,33%. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa model TPS dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Murni pada tahun 2013 berjudul “Peningkatan Aktivitas Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Menggunakan Teknik TPS di kelas IV” juga menunjukkan peningkatan yang signifikan pada aktivitas belajar siswa. Aktivitas fisik pada siklus I meningkat menjadi 66,7% dan siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 84,72%. Aktivitas mental siswa pada siklus I meningkat menjadi 67,78% dan siklus 2 juga mengalami peningkatan sebesar 84,4%. Sedangkan pada aktivitas emosional peningkatan pada siklus I mencapai 72,22% dan pada siklus 2 meningkat hingga 84,4%. Artinya, model pembelajaran TPS mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa.

Penelitian selanjutnya tentang keefektifan media pembelajaran video yang dilakukan oleh Nurul Aprindyana pada tahun 2013 yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar IPA Menggunakan Media Video pada Siswa Kelas IV SDN Karangpilang I Surabaya”. Pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media video dapat meningkatkan keterampilan guru,aktivitas siswa, dan ketuntasan belajar. Pada siklus I aktivitas guru mencapai persentase sebesar 64,7% dan meningkat pada siklus 2 menjadi 81,8%. Sedangkan pada aktivitas siswa, pada siklus I sebesar 73,25% dan siklus ke 2 menjadi 89,9%. Pada ketuntasan belajar klasikal siswa terjadi perubahan yang signifikan.

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan tersebut digunakan sebagai pendukung dalam penelitian yang dilakukan peneliti dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran TPS Berbantuan Media Video untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep materi Ibadah yang sejati Pembelajaran PAK Pada Kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama.

2.3.            Kerangka Berpikir

Hasil belajar pada pembelajaran PAK siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama belum optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain adalah guru kurang variatif dalam memberikan pembelajaran, kurang adanya pemanfaatan media, serta interaksi antara guru dan siswa kurang berjalan dengan baik. Pengelolaan kelas yang kurang maksimal serta proses pembelajaran yang hanya berpusat pada guru mengakibatkan siswa kurang aktif dalam pembelajaran.

Menurut Isjoni (2014: 23) dengan melaksanakan model pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa untuk mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan secara penuh dalam suasana belajar yang terbuka dan demokratis. Siswa bukan lagi sebagai objek pembelajaran, namun bisa juga sebagai tutor teman sebaya. Model pembelajaran TPS dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri, keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.

Keberhasilan proses belajar mengajar pada Pembelajaran PAK dapat diamati dengan keberhasilan guru dalam mengajar yaitu meningkatnya keterampilan mengajar guru, yang memenuhi keterampilan dasar mengajar guru, keberhasilan siswa yang mengikuti pembelajaran, keberhasilan itu sendiri dapat dilihat dari tingkat aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. Semakin tinggi penguasaan materi dan aktivitas belajar siswa, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan dalam pembelajaran yang ditandai dengan meningkatnya hasil belajar siswa. Dengan menerapkan model kooperatif tipe TPS dalam kegiatan pembelajaran, siswa akan mampu berfikir kritis dan dapat meningkatkan aktivitasnya pada saat diskusi.

Skema kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat ditunjukkan dengan bagan di bawah ini:

Bagan 2.1

Kerangka Alur Berpikir

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

2.4.            Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori, kajian empiris dan kerangka berpikir yang telahdiuraikan sebelumnya, hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:

a.       Penerapan model TPS berbantuan media video pada Pembelajaran PAK pada kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama mampu meningkatkan keterampilan guru dalam pembelajaran PAK

b.      Penerapan model TPS berbantuan media video pada Pembelajaran PAK pada kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama mampu meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran PAK

c.       Penerapan model TPS berbantuan media Video pembelajaran PAK pada kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama mampu meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran PAK.

 


BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1.        RANCANGAN PENELITIAN

Terdapat berbagai model penelitian tindakan kelas yang dikemukakan para ahli. Namun secara umum siklus penelitian terdiri dari empat tahapan yang dilalui yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting) (Arikunto, 2008: 16). Alur penelitian tindakan kelas dapat dilihat dalam bagan berikut:

 

 

Bagan 3.1 Tahap PTK

 

Adapun penjelasan masing-masing tahapan penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:

3.1.1.      Perencanaan

Perencanaan merupakan tahapan awal yang harus dilakukan oleh peneliti untuk melaksanakan PTK. Langkah dalam perencanaan ini terdiri dari: 1) Identifikasi masalah; 2) menganalisis dan merumuskan masalah; 3) analisis akar penyebab masalah; 4) pengembangan intervensi (pemecahan masalah); dan 5) menyusun rancangan tindakan.

Dalam pelaksanaan PTK ini (Mulyasa, 2011: 67), perencanaan yang dilakukan adalah:

a.       Menelaah kompetensi inti, kompetensi dasar, materi dan Indikator Pencapaian Kompetensi.

b.      Menyusun RPP sesuai dengan indikator yang ditetapkan dan scenario pembelajaran PAK melalui model pembelejaran TPS berbantuan media video.

c.       Menyiapkan sumber dan media pembelajaran video sesuai dengan materi yang akan diperbaiki yaitu Ibadah yang sejati.

d.      Menyiapkan alat tes evaluasi berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.

e.       Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa dan keterampilan guru dalam pembelajaran berupa tabel observasi.

 

3.1.2.      Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan yang telah dilaksanakan, hal yang pelu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan adalah guru harus menaati apa yang telah dirumuskan dalam rancangan dan tidak dibuat-buat. Selain itu guru harus melaksanakan penelitian secara wajar dan tidak dibuat-buat. (Arikunto, 2008: 18).

PTK ini dilaksanakan selama tiga siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam satu kali pembelajaran. Siklus pertama yang dilakukan pembelajaran PAK dengan  model pembelajaran TPS berbantuan media video. Pada siklus 1 membahas tentang Kisah Anto dan belajar dari Alkitab, belum mencapai indikator keberhasilan.

Oleh karena itu dilanjutkan siklus ke 2 dengan kegiatan mendalami materi Ibadah yang sejati dengan menerapkan perbaikan pada siklus 1 serta tetap menerapkan model pembelajaran TPS berbantuan media video. Siklus ke 3 dengan materi menghayati Ibadah yang sejati yang dilakukan dengan mengevaluasi dan memperbaiki kekurangan selama pelaksanaan dari siklus 2. Pelaksanaan siklus tersebut bersifat menyesuaikan, dan pada penelitian ini siklus dilaksanakan sampai siklus ke 3.

Pelaksanaan tindakan ini merupakan pelaksanan pembelajaran yang merupakan implementasi dari RPP, pelaksanaan tindakan itu sendiri meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. (BNSP, 2007:14).

3.1.3.      Observasi

Pada pelaksanaan tindakan guru harus melakukan observasi secara rinci dan teliti, karena observasi tersebut akan berfungsi untuk mendokumentasikan perubahan tindakan baik proses maupun hasilnya, yang akan digunakan sebagai refleksi oleh peneliti maupun guru, dan sebagai dasar untuk melakukan perencanaan dan tindak lanjut. (Arikunto, 2008:19).

Pengumpulan data pada penelitian tindakan kelas ini melalui observasi yang dilakukan bersamaan dengan penelitian tindakan. Dalam penelitian ini aspek-aspek yang diamati/ diobservasi adalah keterampilan guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan instrument yang telah disusun.

3.1.4.      Refleksi

Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang telah terjadi pada siswa, guru, dan suasana kelas. Pada tahap ini guru sebagai peneliti menjawab pertanyaan mengapa (why), bagaimana (how), sejauh mana (to what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan. (Arikunto, 2008:19).

Berdasarkan hasil analisis, peneliti melakukan refleksi, dengan mengkaji proses pembelajaran yaitu keterampilan guru dan aktivitas siswa, serta pemahaman siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama, keefektifan proses pembelajaran dapat dilihat dari ketercapaian indikator kinerja pada siklus pertama. Kemudian tim guru membuat tindak lanjut perbaikan untuk siklus berikutnya mengacu pada siklus sebelumnya.

 

3.2.       PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN

Penelitian dengan menerapkan model pembelajaran TPS berbantuan media video dilaksanakan dalam tiga siklus masing-masing terdiri dari satu pembelajaran. Adapun rincian kegiatan pembelajarannya adalah sebagai berikut:

3.2.1.          Siklus Pertama

3.2.1.1.    Perencanaan

Tahap perencanaan meliputi :

a.       Menelaah standar kompetensi, kompetensi standar, materi dan indikator mata pelajaran, khususnya PAK di kelas VI semester 1.

b.      Menyusun perangkat pembelajaran dengan materi Ibadah yang sejati dengan sub materi Kisah Anto dan belajar dari Alkitab menggunakan langkah-langkah pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan media video.

c.       Menyiapkan media video yang berkaitan dengan Ibadah yang sejati serta menyiapkan sumber belajar berupa buku.

d.      Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.

e.       Menyiapkan lembar observasi dan instrument penilaian untuk mengamati keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.

3.2.1.2.    Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

1.      Guru masuk dan memberikan salam.

2.      Guru mengkondisikan kelas.

3.      Guru mengajak siswa bernyanyi dan berdoa.

4.      Guru mengechek kehadiran siswa.

5.      Guru memberikan apersepsi dengan menanyakan “siapa yang sering beribadah?” kemudian melanjutkan pertanyaan dengan “berapa kali kalian beribadah dalam satu Minggu?”

6.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

7.      Guru memutarkan video pembelajaran tentang Ibadah yang sejati. (Eksplorasi)

8.      Siswa memperhatikan video yang diputar di depan kelas. (Elaborasi)

9.      Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa “Bagaimana menurutmu makna Ibdah yang sejati setalah kamu mengamati video tadi ?” (Eksplorasi)

10.  Siswa menuliskan jawaban dari pertanyaan guru. (Elaborasi)

11.  Guru meminta siswa untuk saling berpasangan dengan teman sebelahnya.

12.  Siswa berdiskusi dan bertukar pikiran dengan pasangannya dari jawaban yang sudah mereka tulis. (Elaborasi)

13.  Guru meminta pasangan untuk menjelaskan hasil diskusi kedepan kelas. (Eksplorasi)

14.  Masing-masing pasangan berbagi hasil diskusinya kepada pasangan lain. (Elaborasi)

15.  Pasangan lain menyimak penjelasan dari pasangan yang menyampaikan pendapatnya kedepan kelas. (Elaborasi)

16.  Guru meminta kelompok lain untuk memberi tanggapan kepada kelompok yang menyampaikan penjelasannya. (Eksplorasi)

17.  Siswa lain memberikan tanggapan kepada kelompok yang menjelaskan dan menjelaskan hasil diskusinya. (Elaborasi).

18.  Guru memutarkan lagi video tentang Ibadah yang Sejati. (Eksplorasi)

19.  Sambil memutarkan video guru menjelaskan materi Ibadah yang sejati. (Eksplorasi)

20.  Guru memberikan penguatan kepada siswa. (Konfirmasi)

21.  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang belum diketahui. (Eksplorasi)

22.  Siswa bersama guru menyampaikan hasil diskusi yang telah dilaksanakan bersama.

23.  Guru dan siswa melakukan refleksi.

24.  Guru memberikan soal evaluasi.

25.  Siswa berdoa dengan tenang.

3.2.1.3.     Observasi

Selama penelitian berlangsung peneliti melakukan observasi terhadap siswa, dan suasana kelas dalam kegiatan pembelajaran.

a.       Melalui lembar observasi aktivitas siswa, peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil pekerjaan tugas siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran.

b.      Melalui lembar catatan lapangan, peneliti menuliskan suasana kelas pada saat pembelajaran.

3.2.1.4.    Refleksi

a.       Mengkaji pelaksanaan pembelajaran dan efek tindakan pada siklus I.

b.      Mengevaluasi secara umum proses dan hasil pembelajaran siklus I.

c.       Membuat daftar permasalahan yang muncul pada siklus I. Adapun daftar permasalahan yang muncul di antaranya yaitu:

1.      Media pembelajaran berupa video yang belum dapat menarik perhatian siswa karena suara yang ada didalam video tersebut kurang bisa didengar siswa. Sehingga beberapa siswa ramai sendiri dan tidak memperhatikan video.

2.      Guru belum menyiapkan materi, sehingga pada saat menjelaskan masih banyak siswa yang belum paham.

3.      Guru belum memberikan umpan balik ketika siswa menyampaikan hasil diskusi.

4.      Inisiatif siswa dalam mengajukan pertanyaan masih rendah.

5.      Beberapa soal dalam evaluasi tidak dibahas guru saat pembelajaran.

d.      Memperbaiki kelemahan untuk siklus 2.

c.       Merencanakan perencanaan tindak lanjut untuk siklus 2.

 

3.2.2.          Siklus Kedua

3.2.2.1.    Perencanaan

Perencanaan yang dilakukan pada siklus kedua adalah memperbaiki dan menyempurnakan pembelajaran yang telah dilaksanakan pada siklus pertama.

Tahap prencanaan meliputi :

a.       Menelaah standar kompetensi, kompetensi standar, materi dan indikator mata pelajaran, khususnya PAK di kelas VI semester 1.

b.      Menyusun perangkat pembelajaran pendalaman materi Ibadah yang sejati menggunakan langkah-langkah pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan media video.

c.       Menyiapkan media video yang berkaitan dengan kegiatan manusia yang mempengaruhi daur air serta menyiapkan sumber belajar berupa buku.

d.      Guru menyiapkan pengeras suara agar video lebih jelas terdengar oleh siswa.

e.       Guru menyiapkan materi agar lebih jelas ketika menjelaskan.

f.       Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.

g.      Menyiapkan lembar observasi dan instrument penilaian untuk mengamati keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.

3.2.2.2.    Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

1.      Salam Guru masuk dan memberikan salam.

2.      Guru mengkondisian kelas.

3.      Guru mengajak siswa untuk berdoa.

4.      Guru mengechek kehadiran siswa.

5.      Guru melakukan apersepsi dengan membahas sekilas tentang materi sebelumnya yaitu tentang materi daur air dan mencoba menggali pengetahuan siswa hubungan antara daur air dan kegiatan manusia yang mempengaruhinya.

6.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

7.      Guru memutarkan video pancingan tentang Orang-orang yang menderita kemiskinan. (Eksplorasi)

8.      Siswa memperhatikan video yang diputarkan guru didepan kelas. (Elaborasi)

9.      Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa “Apa yang kalian lakukan jika seperti kalian ada di posisi Anto dalam kisah dalam video?” (Eksplorasi)

10.  Siswa menuliskan jawaban dari pertanyaan guru. (Elaborasi)

11.  Guru meminta siswa untuk saling berpasangan dengan teman sebelahnya.

12.  Siswa berdiskusi dan bertukar pikiran dengan pasangannya dari jawaban yang sudah mereka tulis. (Elaborasi)

13.  Guru meminta pasangan untuk menjelaskan hasil diskusi kedepan kelas. (Eksplorasi)

14.  Masing-masing pasangan berbagi hasil diskusinya kepada pasangan lain. (Elaborasi)

15.  Pasangan lain menyimak penjelasan dari pasangan yang menyampaikan pendapatnya kedepan kelas. (Elaborasi)

16.  Guru meminta kelompok lain untuk memberi tanggapan kepada kelompok yang menyampaikan penjelasannya. (Eksplorasi)

17.  Siswa lain memberikan tanggapan kepada kelompok yang menjelaskan. (Elaborasi)

18.  Guru menyajikan materi tentang Pendalaman Materi Ibadah yang Sejati dengan menggunakan media video. (Eksplorasi)

19.  Guru menjelaskan tentang Pendalaman Materi Ibadah yang Sejati. (Eksplorasi)

20.  Siswa mendengarkan dan memperhatikan materi tentang Pendalaman Materi Ibadah yang Sejati dengan menggunakan media video oleh guru menggunakan media video. (Elaborasi)

21.  Guru memberikan penguatan atau umpan balik kepada siswa. (Konfirmasi)

22.  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang belum diketahui. (Eksplorasi)

23.  Siswa bersama guru menyampaikan hasil diskusi yang telah dilaksanakan bersama.

24.  Guru dan siswa melakukan refleksi.

25.  Guru memberikan soal evaluasi.

26.  Guru memberikan pemantapan kepada siswa.

27.  Siswa berdoa dengan tenang.

3.2.2.3.    Observasi

Seperti pada siklus pertama, selama penelitian berlangsung peneliti berkolaborasi dengan guru lain melakukan observasi terhadap siswa dalam kegiatan pembelajaran.

a.       Melalui lembar observasi keterampilan guru, guru mengamati keterampilan guru dalam pembelajaran. Aspek yang dinilai adalah bagaimana guru dalam menyampaikan pelajaran dan perilaku guru selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

b.      Melalui lembar observasi aktivitas siswa, peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil pekerjaan tugas siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran.

c.       Melalui lembar catatan lapangan, peneliti menuliskan suasana kelas pada saat pembelajaran.

3.2.2.4.    Refleksi

a.       Mengkaji pelaksanaan pembelajaran dan efek tindakan pada siklus 2.

b.      Mengevaluasi secara umum proses dan hasil pembelajaran siklus 2.

c.       Membuat daftar permasalahan yang muncul pada siklus 2. Adapun daftar permasalahan yang muncul di antaranya yaitu:

1.      Pengaturan pada LCD yang digunakan kurang besar sehingga siswa banyak yang protes untuk layar lebih besar.

2.      Dalam menyampaikan pendapat siswa masih malu-malu dan harus ditunjuk

3.      Guru tidak memberikan reward sehingga pembelajaran kurang menarik minat siswa.

4.      Minat siswa untuk bertanya masih rendah.

d.      Memperbaiki kelemahan siklus 2.

e.       Merencanakan perencanaan tindak lanjut untuk siklus 3.

3.2.3.          Siklus Ketiga

3.2.3.1.    Perencanaan

Perencanaan yang dilakukan pada siklus ketiga adalah memperbaiki dan menyempurnakan pembelajaran yang telah dilaksanakan pada siklus kedua.

Tahap perencanaan meliputi :

a.       Menelaah standar kompetensi, kompetensi standar, materi dan indikator mata pelajaran, khususnya PAK di kelas VI semester 1.

b.      Menyusun perangkat pembelajaran dengan materi menghayati Ibadah yang sejati menggunakan langkah-langkah pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan media video.

c.       Menyiapkan media video yang berkaitan dengan penghayatan makna serta menyiapkan sumber dan alat peraga.

d.      Menyiapkan reward agar lebih menarik aktivitas siswa.

e.       Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.

f.       Menyiapkan lembar observasi dan instrument penilaian untuk mengamati keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa.

3.2.3.2.    Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

1.      Salam Guru masuk dan memberikan salam.

2.      Guru mengkondisian kelas.

3.      Guru mengajak siswa untuk berdoa.

4.      Guru mengechek kehadiran siswa.

5.      Guru melakukan apersepsi dengan membahas sekilas tentang materi sebelumnya yaitu tentang pendalamaan materi Ibadah yang sejati.

6.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

7.      Guru memutarkan video pancingan seputar menghayati Ibadah yang sejati. (Eksplorasi)

8.      Siswa memperhatikan video yang diputarkan didepan kelas.

9.      Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa “Coba tuliskan kegiatan apa saja yang kamu lakukan yang menunjukkan ibadah yang sejati?” (Eksplorasi)

10.  Siswa menuliskan jawaban dari pertanyaan guru. (Elaborasi)

11.  Guru meminta siswa untuk saling berpasangan dengan teman sebelahnya.

12.  Siswa berdiskusi dan bertukar pikiran dengan pasangannya dari jawaban yang sudah mereka tulis. (Elaborasi)

13.  Guru meminta pasangan untuk menjelaskan hasil diskusi kedepan kelas. (Eksplorasi)

14.  Masing-masing pasangan berbagi hasil diskusinya kepada pasangan lain. (Elaborasi)

15.  Pasangan lain menyimak penjelasan dari pasangan yang menyampaikan pendapatnya kedepan kelas. (Elaborasi)

16.  Guru meminta kelompok lain untuk memberi tanggapan kepada kelompok yang menyampaikan penjelasannya. (Elaborasi)

17.  Siswa lain memberikan tanggapan kepada kelompok yang menjelaskan. (Elaborasi)

18.  Guru menyajikan materi tentang menghayati Ibadah yang sejati menggunakan media video. (Eksplorasi)

19.  Guru menjelaskan materi tentang pentingnya menghayati makna Ibadah yang sejati. (Eksplorasi)

20.  Siswa mendengarkan dan memperhatikan materi tentang Menghayati Ibadah yang Sejati oleh guru menggunakan media video. (Eksplorasi)

21.  Guru memberikan penguatan atau umpan balik kepada siswa. (Konfirmasi)

22.  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang belum diketahui. (Eksplorasi)

23.  Siswa bersama guru menyampaikan hasil diskusi yang telah dilaksanakan bersama.

24.  Guru dan siswa melakukan refleksi

25.  Guru memberikan soal evaluasi

26.  Guru memberikan pemantapan kepada siswa

27.  Siswa berdoa dengan tenang

3.2.3.3.    Observasi

Seperti pada siklus pertama dan kedua, selama penelitian berlangsung peneliti berkolaborasi dengan guru kelas melakukan observasi terhadap siswa dalam kegiatan pembelajaran.

a.       Melalui lembar observasi keterampilan guru, peneliti mengamati keterampilan guru dalam pembelajaran. Aspek yang dinilai adalah bagaimana guru dalam menyampaikan pelajaran dan perilaku guru selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

b.      Melalui lembar observasi aktivitas siswa, peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil pekerjaan tugas siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran.

c.       Melalui lembar catatan lapangan, peneliti menuliskan suasana kelas pada saat pembelajaran.

 

3.2.3.4.    Refleksi

a.       Mengkaji pelaksanaan pembelajaran dan efek tindakan pada siklus 3.

b.      Mengevaluasi secara umum proses dan hasil pembelajaran siklus 3.

c.       Menemukan permasalahan yang muncul pada siklus 3. Permasalahan yang masih muncul yaitu rendahnya minat bertanya anak pada saat berdiskusi.

d.      Merencanakan perbaikan pembelajaran untuk mempertahankan mutu secara berkelanjutan dan membuat laporan penelitian.

 

 

3.3.       SUBJEK PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di SDN 4 Kasongan Lama dengan subyek penelitian guru dan siswa kelas VI A sebanyak 15 siswa yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan.

3.4.       LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di ruang kelas di SDN 4 Kasongan lama bertempat di jalan jambu kereng Humbang Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan.

3.5.       VARIABEL PENELITIAN

Variabel yang diteliti meliputi:

1.      Keterampilan guru dalam melaksanakan pembelajaran PAK dengan menggunakan model TPS berbantuan media Video.

2.      Aktivitas siswa dalam pembelajaran PAK dengan menggunakan model pembelajaran TPS berbantuan media Video.

3.      Pemahaman siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama dalam pembelajaran PAK dengan menggunakan model pembelajaran TPS berbantuan media Video.

 

3.6.       DATA DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA

3.6.1.          Sumber Data.

3.6.1.1.    Siswa

Sumber data siswa kelas VI SDN 4 Kasongan Lama diperoleh dari hasil observasi yang sistematik selama pelaksanaan siklus pertama sampai siklus ketiga dengan data aktivitas siswa dan hasil belajar (evaluasi) dalam pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan media video

3.6.1.2.    Guru

Sumber data guru berasal dari lembar observasi keterampilan guru PAK dalam pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan media video

3.6.1.3.    Data Dokumen

Data dokumen dari penelitian ini diambil dari hasil belajar siswa dalam pembelajaran PAK sebelumnya serta foto dan video pelaksanaan pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan media video.

3.6.1.4.    Catatan Lapangan

Sumber data yang berupa catatan lapangan berasal dari catatan selama proses pembelajaran berupa suasana dalam pembelajaran PAK.

 

3.6.2.          Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode tes dan non-tes.

3.6.2.1.    Teknik Tes

Menurut Poerwanti (2008: 4-3) Tes adalah himpunan pertanyaan yang harus dijawab, pertanyaan-pertanyaan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek tertentu dari peserta tes. Tes dalam penelitian ini, tes digunakan untuk mengukur atau memberi angka terhadap proses pembelajaran ataupun pekerjaan siswa sebagai hasil belajar yang merupakan alat ukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi PAK.

3.6.2.2.              Teknik Non-Tes

Metode non-tes dalam penelitian ini diantaranya menggunakan:

3.6.2.2.1.       Metode Observasi

Observasi adalah suatu proses observasi dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu. Observasi tidak hanya digunakan dalam kegiatan evaluasi, tetapi juga dalam bidang penelitian. (Zainal, 2013: 153)

Observasi dalam penelitian ini berisi catatan yang berisikan bagaimana keterampilan guru, aktivitas siswa dalam pembelajaran PAK dengan model pembelajaran TPS berbantuan media video.

3.6.2.2.2.       Metode Dokumentasi

Dokumentasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data dengan mendokumentasikan kegiatan belajar mengajar baik melalui foto maupun video rekaman. Hal ini dimaksudkan untuk merekam segala aktivitas pembelajaran yang terjadi agar tidak lupa.

3.6.2.2.3.       Catatan Lapangan

Catatan lapangan adalah catatan yang berisi hal-hal yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi. Berfungsi untuk memperkuat data yang diperoleh selama pembelajaran (Arikunto, 2008: 78). Catatan lapangan digunakan peneliti untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama pembelajaran .

 

3.6.3.          Jenis Data.

Berdasarkan apa yang diteliti, maka jenis data dalam penelitian ini adalah data  kuantitatif yang didapat dari cara observasi pelaksanaan tindakan.

3.6.4.          Cara mengumpulkan Data.

Data tentang Proses Belajar Mengajar pada saat dilaksanakan siklus pertama  dan kedua, diambil dengan menggunakan lembar observasi.

3.6.5.          Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data.

Adapun teknik pengumpulan data dilakukan secara langsung dalam kelas  yakni mengisi lembaran observasi berdasarkan pengamatan.

 

3.7.       INDIKATOR KEBERHASILAN / KINERJA

Model pembelajaran TPS berbantuan media video dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep materi Ibadah Yang sejati dalam pembelajaran PAK pada siswa kelas VI A SDN 4 Kasongan Lama dengan indikator sebagai berikut:

a.       Keterampilan guru dalam pembelajaran PAK melalui model pembelajaran TPS berbantuan media video meningkat dengan kategori sangat baik

b.      Aktivitas siswa dalam pembelajaran PAK melalui model pembelajaran TPS berbantuan media video meningkat dengan kategori sangat baik.

c.       Pemahaman siswa dalam pembelajaran PAK melalui model TPS berbantuan video mengalami peningkatan dengan indikator pencapaian kompetensi minimal 75%.


 

 

Our Team

  • Syed Faizan AliMaster / Computers
  • Syed Faizan AliMaster / Computers
  • Syed Faizan AliMaster / Computers
  • Syed Faizan AliMaster / Computers
  • Syed Faizan AliMaster / Computers
  • Syed Faizan AliMaster / Computers